BANGLI, BeritaSekolah.com – Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan inklusif melalui pengembangan sekolah ramah disleksia di Bangli, Bali. Program ini dilaksanakan dengan memberikan pendampingan kepada tenaga pendidik serta menyediakan berbagai instrumen pembelajaran membaca yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
Sebagai langkah awal, SMP Negeri 6 Kintamani ditetapkan sebagai sekolah percontohan dalam penerapan program tersebut. Kehadiran program ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh siswa.
Undiksha Siapkan Inovasi Pembelajaran untuk Siswa Disleksia
Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, I Ketut Trika Adi Ana, menjelaskan bahwa pengembangan sekolah ramah disleksia merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak yang mengalami kesulitan membaca.
Program tersebut didukung oleh hasil penelitian serta berbagai inovasi dalam metode pembelajaran membaca yang telah dikembangkan sebelumnya.
Sejumlah perangkat intervensi pembelajaran juga telah diserahkan kepada SMPN 6 Kintamani untuk menunjang kesiapan sekolah dalam menerapkan pendekatan pendidikan yang lebih adaptif.
Menariknya, beberapa inovasi yang dikembangkan telah diperkenalkan melalui forum akademik internasional di Australia dan Malaysia.
Bahkan, salah satu inovasi pembelajaran tersebut berhasil memperoleh penghargaan di Malaysia berkat kontribusinya terhadap pengembangan metode pendidikan.
Trika berharap dukungan Pemerintah Kabupaten Bangli dapat menjadi awal dari perluasan program sekolah ramah disleksia ke berbagai satuan pendidikan lainnya.
Guru Memiliki Peran Penting dalam Pendidikan Inklusif
Menurut Trika, keberhasilan pengembangan sekolah ramah disleksia tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat pembelajaran, tetapi juga membutuhkan kesiapan guru dan dukungan kebijakan pemerintah daerah.
Tenaga pendidik perlu memiliki kemampuan untuk memahami karakteristik siswa dengan disleksia agar dapat menerapkan strategi pembelajaran yang tepat.
Ia menegaskan bahwa anak dengan disleksia tetap memiliki kemampuan untuk belajar dan berkembang. Namun, mereka memerlukan pendekatan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Karena itu, pemberian label negatif terhadap kemampuan anak perlu dihindari agar tidak memengaruhi kepercayaan diri maupun perkembangan akademiknya.
Melalui program ini, pengalaman penerapan pendidikan inklusif di SMPN 6 Kintamani diharapkan dapat menjadi referensi bagi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama lainnya di Kabupaten Bangli.
Bupati Bangli Dukung Pengembangan Sekolah Ramah Disleksia
Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, menyambut positif langkah Undiksha dalam membantu meningkatkan kesiapan sekolah menghadapi keberagaman kebutuhan belajar peserta didik.
Menurutnya, kemampuan literasi dan numerasi merupakan dasar penting dalam pendidikan yang harus dapat dikembangkan oleh setiap siswa, termasuk mereka yang memiliki disleksia.
Oleh sebab itu, sekolah perlu meningkatkan kemampuan dalam mengenali kesulitan belajar sejak dini agar penanganan dapat dilakukan sebelum berdampak lebih jauh terhadap prestasi akademik dan rasa percaya diri anak.
Sedana Arta juga memberikan arahan kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga untuk menunjuk I Ketut Trika Adi Ana sebagai konsultan pendidikan inklusif.
Dalam menjalankan tugas tersebut, akademisi Undiksha itu akan berkolaborasi dengan Unit Layanan Disabilitas Kabupaten Bangli untuk mendukung implementasi program sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga pendidik.
Program Diharapkan Meluas ke Seluruh Sekolah di Bangli
Pengembangan sekolah ramah disleksia di Bangli diharapkan tidak berhenti pada SMPN 6 Kintamani sebagai sekolah percontohan.
Pemerintah Kabupaten Bangli bersama Undiksha berupaya mendorong penerapan program secara bertahap agar semakin banyak sekolah mampu menyediakan layanan pembelajaran yang inklusif.
Melalui kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan tenaga pendidik, program ini diharapkan mampu menghadirkan lingkungan belajar yang aman, adaptif, serta menghargai perbedaan kemampuan setiap peserta didik.
Dengan demikian, sekolah ramah disleksia di Bangli diharapkan menjadi salah satu langkah dalam memperkuat kualitas pendidikan inklusif sekaligus memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya.
![]()















