Jakarta, BeritaSekolah.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyusun kerangka tata kelola laboratorium sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) berbasis ekosistem inovasi atau STEM Innovation Ecosystem Laboratory Governance Framework. Kerangka tersebut dirancang untuk mendukung transformasi pendidikan di Sekolah Unggul Garuda.
Peneliti Pusat Riset Pendidikan (PRP) BRIN, Suharman Halawa, mengatakan model tata kelola yang dikembangkan memiliki enam komponen utama. Enam komponen tersebut meliputi tata kelola dan kepemimpinan, pembelajaran berbasis inkuiri serta proyek atau desain, penelitian dan pengembangan solusi inovatif, penguatan profesionalisme guru, kemitraan multisektor, serta penyebarluasan praktik baik.
“Model tersebut mengintegrasikan enam komponen utama, yaitu tata kelola dan kepemimpinan, pembelajaran berbasis inkuiri serta proyek atau desain, penelitian dan pengembangan solusi inovatif, peningkatan profesionalisme guru, kemitraan multisektor, serta diseminasi praktik baik,” kata Suharman dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Menurut Suharman, aspek kemitraan multisektor dalam kerangka tersebut mencakup kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri. Adapun diseminasi praktik baik bertujuan agar berbagai pengalaman serta hasil inovasi yang lahir dari laboratorium dapat dibagikan dan digunakan oleh pihak yang lebih luas.
BRIN Kaji Lima Sekolah dengan Karakteristik Berbeda
Suharman menjelaskan bahwa penyusunan kerangka tata kelola laboratorium STEM dilakukan berdasarkan studi terhadap lima sekolah yang memiliki karakteristik serta kondisi lingkungan berbeda.
Salah satu lokasi kajian adalah SMA Unggul Garuda Timor di Nusa Tenggara Timur. Sekolah tersebut menjadi representasi tantangan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Kajian berikutnya dilakukan di MAN Insan Cendekia Gorontalo untuk melihat penerapan tata kelola yang melibatkan lintas kementerian. Sementara itu, SMA Del di Sumatera Utara menjadi objek kajian untuk mempelajari pola kemitraan pendidikan yang berbasis yayasan dan pihak swasta.
Selain ketiga sekolah tersebut, BRIN juga melakukan kajian di SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta dan SMA Taruna Nusantara. Kedua sekolah tersebut menjadi representasi sekolah negeri dengan karakteristik serta pola transformasi yang berbeda.
Keragaman sekolah yang menjadi objek penelitian tersebut digunakan untuk melihat bagaimana tata kelola laboratorium STEM dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing satuan pendidikan.
“Melalui keberagaman konteks ini, kami menyusun rekomendasi tata kelola yang inklusif agar laboratorium STEM di Sekolah Garuda dapat benar-benar berfungsi sebagai ekosistem inovasi yang memperkuat kompetensi guru dan mencetak generasi unggul berdaya saing global,” ujar Suharman.
Kompetensi Guru Menjadi Bagian Penting
Dalam kerangka yang dikembangkan BRIN, guru ditempatkan sebagai salah satu komponen penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laboratorium STEM.
Suharman menyebutkan hasil survei penelitian yang dilakukan di lima provinsi, yakni Jawa Barat, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku, menunjukkan masih adanya kesenjangan keterampilan atau skills gap di kalangan guru.
Meskipun tingkat persepsi dan antusiasme guru terhadap penerapan pembelajaran STEM tergolong tinggi, sebagian besar guru menilai kemampuan teknis mereka masih belum cukup untuk menerapkan pendekatan tersebut secara optimal dalam proses pembelajaran di kelas.
“Hasil survei riset kami di lima provinsi, Jawa Barat, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku, menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan (skills gap). Meskipun persepsi dan antusiasme guru terhadap penerapan STEM sangat tinggi, mayoritas guru merasa keterampilan teknis mereka belum memadai untuk mengimplementasikannya di kelas,” ujar Suharman.
Kondisi tersebut, menurut dia, memperlihatkan bahwa pengelolaan laboratorium STEM tidak dapat hanya berfokus pada pembangunan maupun penyediaan sarana dan prasarana.
Laboratorium STEM Didorong Menjadi Ekosistem Inovasi
Tata kelola laboratorium STEM dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan talenta peserta didik melalui program Sekolah Unggul Garuda. Penguasaan teori sains saja dinilai belum cukup untuk membentuk kemampuan peserta didik dalam menghadapi berbagai persoalan.
Peserta didik juga perlu memahami proses terbentuknya pengetahuan, mampu menyusun pertanyaan penelitian, serta mengembangkan solusi terhadap suatu persoalan berdasarkan bukti yang tersedia.
Melalui penelitian tersebut, BRIN berupaya menyusun rekomendasi tata kelola laboratorium STEM yang dapat disesuaikan dengan karakteristik setiap sekolah.
Dengan pendekatan tersebut, laboratorium diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas tambahan dalam kegiatan belajar mengajar. Laboratorium STEM juga dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang mendukung peningkatan kapasitas guru, memperkaya pengalaman belajar peserta didik, mendorong kegiatan penelitian dan inovasi, serta memperkuat kolaborasi di lingkungan sekolah.
![]()















