Jakarta, BeritaSekolah.com – Pengembangan talenta nasional dinilai perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri dan penyediaan lapangan kerja. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi ekonomi Indonesia menuju target Indonesia Maju 2045.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sesjen Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, ketika memberikan paparan pada acara The Future Fest 2026 di Gedung Dhanapala, Jumat (2/10).
Mengusung tema “Building Indonesia’s Future Investing in Talent, Education, and Employment”, The Future Fest 2026 mempertemukan alumni dan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), pemerintah, kalangan perguruan tinggi, serta sektor industri.
Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk membahas peran talenta Indonesia dalam mendukung pembangunan ekonomi sekaligus memperkuat hubungan antara pendidikan, dunia usaha, dan kebutuhan industri.
Dalam pemaparannya, Badri mengatakan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 membutuhkan berbagai langkah nyata, termasuk membangun ekosistem yang dapat mempertemukan talenta, pendidikan tinggi, industri, dan dunia usaha.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) saja belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Peningkatan tersebut perlu dibarengi dengan pertumbuhan jumlah perusahaan yang mampu menghasilkan nilai tambah sekaligus menyediakan lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja berpendidikan tinggi.
“Kami berharap nanti para alumni LPDP bisa bergabung dengan Kemdiktisaintek maupun dengan kementerian-kementerian yang lain, bagaimana kita bisa membangkitkan ekonomi Indonesia. Dan tentunya melihat visi Indonesia Emas 2045 ini,” ujar Badri.
Indonesia Membutuhkan Lebih Banyak Perusahaan Besar
Kebutuhan penguatan sektor industri juga terlihat dari materi McKinsey Global Institute yang disampaikan dalam paparan tersebut.
Dalam skenario Indonesia berhasil mencapai status negara berpendapatan tinggi pada 2045, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 1.400 perusahaan yang masuk kategori sangat besar dan sekitar 40.000 perusahaan besar.
Pertumbuhan perusahaan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kesempatan kerja, khususnya bagi tenaga kerja dengan pendidikan tinggi.
“Perusahaan besar itu yang sebenarnya nantinya, akan bisa menyerap tenaga kerja yang berpendidikan tinggi,” tutur Badri.
Pendidikan Tinggi Berperan dalam Mendorong Inovasi
Keterkaitan antara pendidikan tinggi, inovasi, dan peningkatan nilai tambah ekonomi juga menjadi perhatian Kemdiktisaintek.
Badri mencontohkan pengalaman sejumlah negara yang menjadikan perguruan tinggi kelas dunia sebagai bagian dari investasi jangka panjang. Pendidikan yang berkualitas dapat menghasilkan riset dan inovasi yang selanjutnya dikembangkan menjadi teknologi, industri, serta produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Karena begitu ada pendidikan yang bagus, pasti di sana akan ada inovasi yang ujung-ujungnya nanti akan ada teknologi yang bisa dihirilisasi kemudian menjadi industri, kemudian nilai tambahnya menjadi tinggi,” papar Badri.
Dengan demikian, penguatan pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas lulusan, tetapi juga memiliki hubungan dengan pengembangan teknologi, inovasi, dan pertumbuhan industri nasional.
Kemdiktisaintek Fokus pada Delapan Industri Strategis
Kemdiktisaintek saat ini mengembangkan orkestrasi SDM nasional yang diarahkan untuk mendukung delapan sektor industri strategis.
Delapan sektor tersebut meliputi pangan, energi, maritim, kesehatan, digitalisasi yang mencakup kecerdasan artifisial (AI) dan semikonduktor, pertahanan, hilirisasi dan industrialisasi, serta material dan manufaktur maju.
Pengembangan sektor-sektor tersebut membutuhkan dukungan ekosistem technopreneur berbasis sains dan teknologi. Ekosistem tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, investor, mentor, komunitas, mahasiswa, hingga alumni.
Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat hubungan antara hasil pendidikan dan riset dengan kebutuhan industri serta peluang usaha.
Alumni LPDP Didorong Berkontribusi
Badri juga menilai alumni LPDP yang tergabung dalam Mata Garuda memiliki pengalaman dan jaringan yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem tersebut.
Kontribusi alumni dapat dilakukan melalui berbagai bidang, termasuk pemerintahan, industri, pendidikan, hingga pengembangan usaha yang berkaitan dengan transformasi ekonomi nasional.
“Harapannya, kita semua disini alumni LPDP dan yang akan berangkat dari LPDP, dan tentunya kalau misalnya bagi perguruan tinggi yang mungkin saat ini juga berkepentingan dengan LPDP, diarahkan ke situ ke delapan strategis, kemudian lebih banyak orientasi bagaimana bisa menumbuhkan ekonomi,” ujar Badri.
Ia menegaskan bahwa kontribusi para alumni merupakan bagian dari investasi jangka panjang negara dalam membangun sumber daya manusia.
Pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan diharapkan tidak berhenti pada pengembangan individu, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kontribusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Melalui penguatan ekosistem talenta pendidikan dan industri, Kemdiktisaintek mendorong kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dunia usaha, investor, dan berbagai elemen lainnya.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat industri strategis, meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperluas lapangan pekerjaan, serta mempercepat transformasi ekonomi Indonesia dalam mewujudkan target Indonesia Maju 2045.
![]()















