JAKARTA, BeritaSekolah.com — Kemampuan membaca masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyebut sekitar empat dari 10 siswa di dunia belum mahir membaca pada akhir jenjang sekolah dasar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi dasar masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Kemampuan membaca bukan sekadar mengenali huruf dan kata, tetapi juga memahami isi bacaan, menemukan informasi, menarik kesimpulan, dan menggunakan informasi untuk memecahkan persoalan.
Gambaran kemampuan membaca siswa Indonesia salah satunya dapat dilihat melalui hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Dalam PISA 2022, skor membaca siswa Indonesia berada di angka 359 poin, turun dari 371 poin pada 2018. Angka tersebut masih berada cukup jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang mencapai 476 poin.
OECD juga mencatat hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam kemampuan membaca. Sementara itu, rata-rata siswa di negara-negara OECD yang mencapai level tersebut berada di kisaran 74 persen.
PISA sendiri mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun. Karena itu, hasil tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan kemampuan seluruh anak Indonesia, khususnya siswa sekolah dasar.
Meski demikian, data tersebut memberikan gambaran bahwa penguatan literasi membaca masih menjadi tantangan penting dalam pendidikan Indonesia.
Kemampuan membaca menjadi fondasi bagi proses belajar siswa. Ketika kemampuan memahami bacaan lemah, siswa berpotensi mengalami kesulitan bukan hanya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga matematika, sains, dan berbagai mata pelajaran lainnya.
Karena itu, peningkatan literasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari sekolah hingga lingkungan keluarga. Ketersediaan buku yang sesuai usia, kebiasaan membaca, kualitas pembelajaran, kemampuan guru, serta pendampingan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan literasi anak.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca juga semakin penting. Anak tidak hanya perlu mampu membaca teks, tetapi juga harus dapat memahami informasi, membedakan fakta dan opini, serta menilai apakah sebuah informasi dapat dipercaya.
Tantangannya kini bukan sekadar membuat anak bisa membaca, tetapi memastikan mereka mampu memahami apa yang dibaca dan menggunakannya untuk belajar serta mengambil keputusan. (ESH)
![]()















