Cirebon, BeritaSekolah.com – Barang bekas yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar yang menarik bagi siswa. Hal tersebut dilakukan oleh murid SD Negeri 1 Kedungjaya, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, melalui pemanfaatan botol plastik bekas dalam kegiatan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), Senin (28/9).
Dalam kegiatan tersebut, para murid diajak mengumpulkan botol plastik bekas yang kemudian diolah menjadi berbagai benda dan karya kreatif. Tidak hanya bagian botol, tutup botol pun dimanfaatkan sebagai material untuk menghasilkan karya seni.
Guru kelas 5 SD Negeri 1 Kedungjaya, Linda Irawati, mengatakan pembelajaran STEM yang diterapkan di sekolah berusaha menghubungkan materi pelajaran dengan berbagai benda serta persoalan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, siswa terlebih dahulu diminta mengumpulkan botol bekas. Barang tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan untuk membuat sejumlah karya.
“Anak-anak kami minta mengumpulkan botol bekas untuk didaur ulang. Dari botol dan tutup botol itu, mereka bisa membuat jam, lukisan, dan berbagai karya lainnya,” ujar Linda.
Kegiatan praktik secara langsung membuat siswa terlihat lebih bersemangat mengikuti proses pembelajaran. Mereka tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga diberi kesempatan untuk mencoba, membuat, sekaligus melihat hasil dari pekerjaan mereka.
Linda menyebut metode tersebut membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan bagi siswa.
“Mereka sangat tertarik. Belajarnya seperti ini, langsung dipraktikkan. Jadi belajar sambil bermain, learning by doing,” katanya.
Pembelajaran STEM Tidak Harus Menggunakan Laboratorium Mahal
Pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran tersebut juga sejalan dengan upaya penguatan pendidikan STEM yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Dalam peluncuran Program STEM Nasional, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pembelajaran STEM tidak selalu membutuhkan fasilitas laboratorium dengan biaya besar.
Menurut Abdul Mu’ti, pengenalan sains dan teknologi kepada anak dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan mereka.
“Saya ingin menumbuhkan kecintaan dan kemampuan pada teknologi sejak dini sehingga mitos bahwa sains itu susah, sains itu mahal, itu harus diubah,” ujar Mu’ti.
Ia juga menjelaskan bahwa proses pembelajaran STEM tidak harus dilakukan di laboratorium modern. Lingkungan sekitar dan aktivitas sehari-hari anak dapat menjadi titik awal untuk mengenalkan berbagai konsep sains dan teknologi.
Barang Bekas Menjadi Media Belajar Kreatif
Penerapan konsep tersebut terlihat dalam kegiatan siswa SD Negeri 1 Kedungjaya. Dengan memanfaatkan botol plastik dan tutup botol yang ada di sekitar mereka, siswa belajar mengamati benda, mengolah material, membuat karya, hingga menemukan bentuk atau fungsi baru.
Kegiatan sederhana tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya mempelajari suatu konsep, tetapi juga dilatih untuk mencoba, berkreasi, bekerja sama, serta mencari solusi menggunakan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media pembelajaran juga menunjukkan bahwa penerapan STEM dapat dilakukan dengan cara sederhana. Sekolah tidak selalu membutuhkan peralatan khusus atau laboratorium canggih untuk memberikan pengalaman belajar berbasis sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Melalui kegiatan seperti ini, barang yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat berubah menjadi media pembelajaran sekaligus karya kreatif. Bagi siswa, proses tersebut menjadi pengalaman langsung untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan dapat ditemukan dan diterapkan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
![]()















