JAKARTA, BeritaSekolah.com – Pendidikan lingkungan dinilai tidak cukup hanya memberikan pengetahuan kepada siswa. Green Education harus mampu mendorong perubahan perilaku, menghasilkan aksi nyata, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.

Pandangan tersebut disampaikan Vice President PT ESG-IN Global Partners Yayang Ruzaldy dalam forum Green Education: Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Peduli Lingkungan yang digelar ICMI, Koperasi Kencana Dharma Cendekia (KKDC) dan Bank Mega Syariah di Ballroom Menara Mega Syariah, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: Green Education Digagas, Sawah hingga Peternakan Bakal Jadi “Kelas” Baru Siswa
Menurut Yayang, sekolah memiliki posisi strategis untuk menjadi ruang praktik pendidikan lingkungan. Konsep tersebut dapat diwujudkan melalui living green laboratory, yakni sekolah yang menjadikan berbagai aktivitas lingkungan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Kegiatannya dapat berupa urban farming, pengelolaan sampah, penghijauan, efisiensi penggunaan energi dan air hingga pemanfaatan teknologi digital.
Namun, kata Yayang, aktivitas tersebut perlu memiliki ukuran yang jelas sehingga dampaknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Green education tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Pendidikan harus menghasilkan kesadaran dan tindakan nyata,” ujar Yayang.
Ia mengatakan setiap aktivitas lingkungan di sekolah dapat dicatat, diukur, dievaluasi dan dikembangkan menjadi data mengenai dampak lingkungan, sosial maupun ekonomi.
Pendekatan tersebut juga dinilai penting karena isu lingkungan kini semakin berkaitan dengan perkembangan ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja baru.
Yayang menyebut peluang tersebut antara lain muncul melalui green job, green industry, green agriculture, green technology dan green finance.
Dari ekosistem tersebut, pendidikan dapat diarahkan untuk melahirkan green talent, mulai dari green entrepreneur, ahli energi terbarukan, analis data lingkungan, spesialis iklim, profesional ESG, pengembang teknologi hijau hingga profesional green finance.
“Pendidikan harus mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masa depan,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Green Education juga diarahkan pada konsep living classroom yang memungkinkan siswa belajar langsung dari lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Salah satu proyek percontohan disiapkan di Desa Wanasari, Indramayu, Jawa Barat, dengan mengintegrasikan pembelajaran melalui pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan pangan dan aktivitas ekonomi desa.
Bagi Yayang, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan bukan sekadar mengajarkan siswa menjaga alam, tetapi juga mengenalkan peluang inovasi, teknologi dan pekerjaan masa depan.
Kolaborasi sekolah, guru, keluarga, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, koperasi dan berbagai pemangku kepentingan pun dinilai menjadi kunci agar Green Education dapat berkembang menjadi gerakan berkelanjutan. (*)
![]()















