Banner Sidebar
Banner Sidebar

Green Education Digagas, Sawah hingga Peternakan Bakal Jadi “Kelas” Baru Siswa

Dr. Marwah Daud Ibrahim - Ketua Koperasi Pangan Cendekia Indonesia MPP ICMI. (Foto: Dok. ICMI)
Dapatkan berita terbaru di Kanal WA KLIK DISINI

JAKARTA, BeritaSekolah.com – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Koperasi Kencana Dharma Cendekia (KKDC), dan Bank Mega Syariah berkolaborasi mendorong gerakan Green Education untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, sehat, aktif, dan peduli lingkungan.

Gagasan tersebut dibahas dalam forum Green Education: Membentuk Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Peduli Lingkungan di Ballroom Menara Mega Syariah, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Yayang Ruzaldy Bongkar Peluang Green Education: Dari Sekolah ke Green Job

Program ini diarahkan tidak sekadar menjadi kegiatan seminar, tetapi dikembangkan sebagai ekosistem pendidikan berbasis pengalaman. Siswa didorong belajar melalui alam, kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, hobi, minat, serta aktivitas pertanian dan lingkungan.

Salah satu gagasan yang diperkenalkan adalah living classroom, yakni pembelajaran langsung di luar ruang kelas. ICMI bersama mitra bahkan menyiapkan proyek percontohan di Desa Wanasari, Indramayu, Jawa Barat.

Ketua Koperasi Pangan Cendekia Indonesia MPP ICMI, Dr. Marwah Daud Ibrahim, mengatakan Green Education merupakan pendidikan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, siswa dapat mempelajari berbagai bidang ilmu melalui proses pangan, mulai dari sawah hingga menjadi makanan di meja.

“Pendidikan sesungguhnya tidak pernah jauh dari kehidupan. Ketika anak berada di tengah sawah, melihat air mengalir, petani bekerja, tanaman tumbuh, serta proses gabah menjadi beras dan akhirnya menjadi nasi, di situlah sesungguhnya pendidikan terjadi,” kata Marwah.

Desa Wanasari nantinya diarahkan menjadi ruang belajar bagi siswa melalui kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan pangan, hingga pengenalan pemasaran.

Siswa juga akan mendapat pengalaman seperti menjadi petani sehari, mulai dari menanam, merawat, memanen, mengolah, mengemas hingga memahami proses pemasaran hasil pertanian.

Marwah menilai pendekatan tersebut sekaligus dapat membuka perspektif baru bagi generasi muda mengenai masa depan desa. Teknologi seperti drone, sensor, data, kecerdasan buatan, mesin pertanian, pemasaran digital dan sistem keuangan modern dinilai dapat digunakan untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian.

Sementara itu, Vice President PT ESG-IN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan Green Education harus menghasilkan tindakan nyata yang dapat diukur.

Menurutnya, sekolah dapat dikembangkan sebagai living green laboratory melalui urban farming, pengelolaan sampah, efisiensi energi dan air, penghijauan serta pemanfaatan teknologi digital.

“Green education tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Pendidikan harus menghasilkan kesadaran dan tindakan nyata,” ujar Yayang.

Ia menyebut perkembangan ekonomi hijau juga membuka peluang lahirnya berbagai profesi baru, seperti green entrepreneur, ahli energi terbarukan, analis data lingkungan, spesialis iklim, profesional ESG, pengembang teknologi hijau hingga profesional green finance.

Program Green Education juga diarahkan memberikan dukungan digital melalui Learning Management System (LMS) gratis bagi sekolah yang terdaftar.

ICMI, KKDC dan Bank Mega Syariah berharap gerakan tersebut dapat berkembang dari proyek percontohan menjadi gerakan yang lebih luas. Indikator keberhasilannya antara lain jumlah siswa yang belajar langsung dengan alam, peningkatan pendapatan petani, produktivitas desa, pengurangan sampah, pemanfaatan aset wakaf secara produktif serta penciptaan lapangan kerja.

Dengan konsep tersebut, desa diharapkan tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi bagian penting dari ruang belajar sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi dan inovasi generasi muda. (*)

Loading