Banner Sidebar
Banner Sidebar

Perpusnas Kembangkan Naskah Kuno Nusantara Menjadi 50 Buku Anak dan Komik

Dapatkan berita terbaru di Kanal WA KLIK DISINI

Jakarta, BeritaSekolah.com – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) terus mengembangkan berbagai cara untuk memperkenalkan warisan dokumenter Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengadaptasi naskah-naskah kuno Nusantara ke dalam bentuk buku anak bergambar dan komik yang lebih mudah dipahami.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses terhadap warisan dokumenter yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Dalam pelaksanaannya, Perpusnas menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain. Inisiatif ini juga memperoleh dukungan melalui JIKJI Prize UNESCO 2024.

Sebanyak sembilan kelompok naskah kuno Nusantara menjadi sumber pengembangan karya tersebut. Kesembilan kelompok itu terdiri atas Desawarnana, Hikayat Aceh, I La Galigo, Peto Syarif, Siksa Kandang Karesian, Sutasoma, Syekh Yusuf, Tuanku Imam Bonjol, dan Panji Kuda Semirang.

Dari berbagai sumber tersebut kemudian lahir 50 karya yang terdiri dari 38 buku anak bergambar, dua chapter book, serta 10 komik. Untuk naskah Syekh Yusuf sendiri dikembangkan menjadi delapan judul.

Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menilai pengembangan naskah kuno menjadi bacaan anak dan komik dapat menjadi sarana untuk menjaga warisan sejarah sekaligus mengenalkannya kepada generasi berikutnya.

Menurut Maki, perubahan bentuk penyajian membuat warisan dokumenter menjadi lebih dekat dengan generasi muda tanpa menghilangkan nilai pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Ia juga menyebut Perpusnas tidak hanya menerbitkan 50 buku anak dan komik, tetapi turut mengembangkan 25 adaptasi Babad Diponegoro dalam Bahasa Inggris.

Pernyataan tersebut disampaikan Maki pada Rabu, 23 September 2026. Ia sekaligus memberikan apresiasi kepada Perpusnas, ITB, dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam pelaksanaan program tersebut.

Maki mengatakan kolaborasi berbagai pihak menunjukkan bahwa warisan dokumenter dapat dikembangkan menjadi sumber pengetahuan yang tetap hidup dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Ia berharap upaya pelestarian naskah, arsip, serta berbagai rekaman sejarah dapat terus dilakukan sehingga warisan tersebut tidak hanya tersimpan sebagai dokumen, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran, kreativitas, dan dialog bagi generasi masa depan.

Perpusnas Dorong Generasi Muda Mengenal Sejarah Nusantara

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan kerja sama dengan ITB merupakan salah satu langkah untuk mendekatkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang terdapat dalam naskah kuno kepada masyarakat masa kini.

Menurut Aminudin, penerbitan buku anak dan komik tersebut memiliki tujuan yang lebih luas. Perpusnas ingin anak-anak Indonesia memiliki kesempatan untuk mengenal sejarah serta jati diri bangsanya melalui bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan karakter mereka.

Selain itu, karya-karya tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan intelektual dan warisan budaya Nusantara kepada masyarakat internasional.

Aminudin menegaskan bahwa proses adaptasi atau alih wahana tidak dimaksudkan untuk menghilangkan keaslian dan nilai yang terdapat dalam naskah kuno. Sebaliknya, metode kreatif digunakan agar pesan dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya dapat disampaikan dengan bahasa visual serta narasi yang lebih komunikatif.

Menurutnya, penggunaan buku anak dan komik sebagai media pengenalan naskah kuno juga dapat menciptakan hubungan antara generasi masa lalu dengan generasi saat ini.

Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita lama diharapkan mampu menjadi pintu masuk untuk meningkatkan minat membaca sejak usia dini. Dalam jangka panjang, cara tersebut juga dapat membantu menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Aminudin mencontohkan kisah Panji yang telah masuk dalam Memory of the World (MoW) UNESCO. Menurutnya, cerita tersebut memiliki berbagai nilai yang dapat dipelajari dan disampaikan kembali kepada anak-anak melalui bahan bacaan yang menarik.

Ia menjelaskan bahwa Perpusnas ingin memperkuat literasi anak dengan menyediakan bahan bacaan yang bersumber dari kekayaan intelektual Nusantara.

Alih Wahana Menjadi Langkah Pelestarian Naskah Kuno

Aminudin juga menjelaskan bahwa pelestarian naskah kuno tidak berhenti pada proses identifikasi, pendaftaran, konservasi, maupun digitalisasi.

Perpusnas kemudian melanjutkan proses tersebut dengan memanfaatkan isi naskah agar dapat dibaca dan dipelajari oleh masyarakat yang lebih luas.

Dengan demikian, naskah kuno tidak hanya aman sebagai benda bersejarah, tetapi juga tetap memiliki fungsi sebagai sumber pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dosen ITB sekaligus Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW, Riama Maslan Sihombing, mengatakan naskah kuno Nusantara menyimpan berbagai informasi mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Menurut Riama, naskah tersebut merekam cara masyarakat terdahulu memandang berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan, agama, spiritualitas, keluarga, alam, pengetahuan, etika, hingga kehidupan sosial.

Namun, keberadaan naskah secara fisik tidak otomatis membuat generasi masa kini dapat memahami seluruh pengetahuan yang ada di dalamnya.

Ia menjelaskan bahwa proses penelusuran, konservasi, digitalisasi, dan penelitian tetap penting untuk menjaga warisan tersebut. Di sisi lain, terdapat tantangan berupa bahasa dan aksara lama yang semakin kurang dikenal serta konteks kehidupan masa lalu yang tidak selalu mudah dipahami oleh anak-anak saat ini.

Karena itu, diperlukan pendekatan baru agar isi naskah kuno dapat diterima oleh generasi muda dengan lebih mudah.

Media Kreatif Jadi Jembatan Antargenerasi

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi dan Naskah Nusantara, Yeri Nurita, menegaskan bahwa alih wahana tidak mengurangi nilai maupun keaslian naskah kuno Nusantara.

Menurut Yeri, pengemasan melalui media yang lebih familiar bagi generasi muda justru memberikan kesempatan lebih besar bagi nilai-nilai dalam naskah untuk dikenal dan dipahami.

Buku bergambar dan komik dapat menjadi media yang lebih komunikatif untuk memperkenalkan cerita, pengetahuan, serta nilai budaya yang berasal dari naskah kuno.

Upaya tersebut juga diharapkan mampu menjadi jembatan antargenerasi. Anak-anak tidak hanya mendapatkan bahan bacaan yang menarik, tetapi juga dapat mengenal sejarah dan kebudayaan bangsa melalui cerita yang bersumber dari warisan dokumenter Nusantara.

Melalui program ini, Perpusnas berharap naskah kuno Indonesia tidak berhenti sebagai koleksi sejarah yang tersimpan di lembaga penyimpanan, tetapi dapat terus hidup melalui pembacaan, pembelajaran, kreativitas, dan pemanfaatan oleh generasi masa kini maupun generasi mendatang.

Loading