Oleh: Effra S. Husein (Direktur Eksekutif Media Center KAHMI JAYA)
Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili sikap redaksi BeritaSekolah.com
Ada sesuatu yang berubah dalam cara manusia beragama ketika kehidupan memasuki era digital.
Dulu, perbedaan keyakinan atau perbedaan penafsiran lebih banyak dibicarakan dalam ruang-ruang terbatas. Ada batas sosial, ada etika pertemuan, ada kesempatan untuk melihat wajah orang yang diajak berbicara.
Kini, semuanya berubah.
Sebuah kalimat dapat dilemparkan kepada jutaan orang hanya dengan satu sentuhan. Sebuah video dapat menyebar tanpa konteks. Sebuah komentar dapat memancing ribuan komentar lain. Dan perbedaan keyakinan yang semestinya menjadi bagian dari realitas kehidupan manusia dapat berubah menjadi pertengkaran terbuka di ruang digital.
Kita melihat bagaimana sebagian orang tidak sekadar mempertahankan keyakinannya, tetapi juga merasa perlu menjatuhkan keyakinan orang lain.
Agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian terkadang justru dijadikan amunisi untuk menyerang.
Pertanyaannya kemudian: apakah yang sedang kita pertahankan adalah agama, atau ego kita sendiri yang kebetulan berbicara menggunakan bahasa agama?
Ketika Perbedaan Berubah Menjadi Pertengkaran
Perbedaan agama bukanlah sesuatu yang baru.
Sejak manusia mengenal peradaban, masyarakat hidup dengan beragam keyakinan, tradisi dan cara memahami Tuhan. Perbedaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah manusia.
Persoalannya bukan pada adanya perbedaan.
Persoalannya adalah ketika perbedaan digunakan sebagai alasan untuk merendahkan manusia lain.
Di media sosial, fenomena tersebut semakin mudah ditemukan.
Saling membandingkan agama. Saling mempertanyakan keyakinan. Mengutip ajaran pihak lain untuk menunjukkan kelemahannya. Menggunakan istilah yang merendahkan. Bahkan terkadang menyebarkan informasi yang belum tentu benar hanya karena dianggap dapat memperkuat posisi kelompok sendiri.
Diskusi berubah menjadi debat.
Debat berubah menjadi pertengkaran.
Pertengkaran berubah menjadi kebencian.
Dan algoritma media sosial sering kali justru memperbesar semuanya.
Konten yang memancing emosi mendapatkan perhatian. Perhatian menghasilkan interaksi. Interaksi menghasilkan distribusi yang lebih luas.
Akhirnya, kemarahan menjadi bahan bakar algoritma.
Agama dalam Ekonomi Perhatian
Kita hidup dalam apa yang sering disebut sebagai attention economy—ekonomi perhatian.
Setiap platform digital berlomba mendapatkan waktu manusia. Konten harus menarik perhatian dalam hitungan detik.
Dalam situasi seperti ini, pesan agama pun menghadapi godaan yang sama.
Ceramah yang panjang dan mendalam mungkin kalah populer dengan potongan video yang kontroversial.
Penjelasan yang membutuhkan konteks mungkin kalah cepat dengan satu kalimat provokatif.
Dialog yang tenang mungkin kalah menarik dibandingkan perdebatan yang penuh emosi.
Di sinilah persoalan muncul.
Ketika agama mulai dinilai berdasarkan jumlah views, likes, komentar dan pengikut, ada risiko substansi kalah oleh popularitas.
Padahal, kebenaran tidak pernah ditentukan oleh jumlah views.
Kebijaksanaan tidak selalu menjadi konten yang paling viral.
Dan suara yang paling keras belum tentu suara yang paling benar.
Keyakinan Tidak Harus Menjadi Alasan untuk Menghina
Setiap manusia memiliki hak untuk meyakini agamanya.
Keyakinan adalah sesuatu yang sangat pribadi sekaligus fundamental. Karena itu, mempertahankan keyakinan bukanlah persoalan yang harus dipermasalahkan.
Tetapi ada perbedaan mendasar antara meyakini agama sendiri dan menghina agama orang lain.
Kita dapat meyakini bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang benar tanpa harus mengajarkan kebencian kepada mereka yang menempuh jalan berbeda.
Kita dapat berdiskusi mengenai teologi tanpa merendahkan manusia yang memiliki keyakinan berbeda.
Kita dapat mempertahankan prinsip tanpa kehilangan adab.
Inilah yang tampaknya semakin sulit dilakukan di ruang digital.
Sebab media sosial sering membuat manusia lupa bahwa di balik sebuah akun terdapat manusia lain yang memiliki perasaan, keluarga, pengalaman dan keyakinan.
Ketika seseorang mengetik hinaan terhadap keyakinan orang lain, ia mungkin hanya melihat layar.
Tetapi bagi orang yang menerimanya, kalimat tersebut dapat menjadi luka.
Agama dan Tantangan AI
Persoalan ini akan semakin kompleks ketika kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
AI dapat membuat tulisan, gambar, suara dan video yang semakin menyerupai kenyataan.
Bayangkan jika teknologi tersebut digunakan untuk membuat seolah-olah seorang tokoh agama mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia katakan.
Bayangkan pula jika video palsu tersebut digunakan untuk menyerang kelompok agama tertentu.
Dalam hitungan menit, sebuah kebohongan dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.
Karena itu, era AI membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kecerdasan teknologi.
Kita membutuhkan kecerdasan moral.
Manusia harus mampu membedakan antara informasi dan manipulasi, antara kritik dan penghinaan, antara dakwah dan provokasi, antara kebebasan berbicara dan penyebaran kebencian.
Di sinilah agama memiliki ruang yang sangat penting.
Bukan untuk melawan teknologi.
Tetapi untuk memberikan arah moral dalam penggunaannya.
Adab Tidak Boleh Hilang di Balik Layar
Ada ironi besar dalam kehidupan digital kita.
Kita mungkin sangat menjaga sopan santun ketika bertemu seseorang secara langsung.
Namun, ketika berhadapan dengan layar, sebagian orang merasa bebas berkata apa saja.
Menghina.
Mencaci.
Menghakimi.
Menyebarkan tuduhan.
Bahkan menyerang keyakinan orang lain.
Seolah-olah tidak ada konsekuensi moral karena lawan bicara tidak berada di hadapan mata.
Padahal, teknologi tidak menghapus tanggung jawab manusia.
Jika agama mengajarkan kejujuran, maka kejujuran harus berlaku di internet.
Jika agama mengajarkan kasih sayang, maka kasih sayang juga harus hadir di media sosial.
Jika agama mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia, maka penghormatan itu juga berlaku kepada mereka yang berbeda keyakinan.
Adab tidak boleh berhenti di rumah ibadah. Adab harus sampai ke kolom komentar.
Jangan Sampai Tuhan Dijadikan Pembenaran untuk Ego
Ada satu hal yang patut direnungkan.
Manusia sering kali berbicara atas nama Tuhan.
Padahal, manusia tetaplah manusia.
Pemahaman manusia terhadap agama memiliki keterbatasan. Tafsir dapat berbeda. Tradisi dapat berbeda. Cara memahami teks dapat berbeda.
Karena itu, ketika seseorang merasa paling berhak menentukan siapa yang benar dan siapa yang pantas dihina, ada baiknya ia berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah saya sedang membela Tuhan, atau sedang membela ego saya sendiri?
Pertanyaan ini penting karena Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk saling membenci demi membuktikan kebesaran-Nya.
Yang membutuhkan agama adalah manusia.
Dan jika agama membuat manusia semakin jauh dari kemanusiaan, barangkali bukan agamanya yang bermasalah, melainkan cara manusia memahami dan menggunakannya.
Menjadi Religius di Era Digital
Menjadi religius di era digital tidak cukup hanya dengan rajin membagikan kutipan agama.
Bukan pula sekadar mengikuti banyak akun tokoh agama.
Religiusitas juga harus terlihat dari perilaku digital.
Mampu menahan diri untuk tidak menyebarkan berita yang belum terverifikasi.
Mampu menghormati perbedaan.
Mampu mengakui ketika kita keliru.
Mampu berdiskusi tanpa menghina.
Mampu berhenti ketika sebuah perdebatan sudah berubah menjadi kebencian.
Dan yang paling penting, mampu menggunakan teknologi untuk menghadirkan kebaikan.
Sebab ukuran keberagamaan bukan hanya seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan, tetapi juga seberapa baik kita memperlakukan ciptaan-Nya.
Agama Harus Tetap Menjadi Jalan Kemanusiaan
Digitalisasi tidak perlu ditakuti oleh agama.
Justru era digital memberikan kesempatan luar biasa bagi agama untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.
Ketika dunia semakin bising, agama dapat menawarkan ketenangan.
Ketika informasi semakin berlimpah, agama dapat mengajarkan kebijaksanaan.
Ketika kebebasan berbicara semakin luas, agama dapat mengingatkan tanggung jawab.
Ketika manusia semakin mudah terhubung secara teknologi tetapi semakin mudah terpecah secara sosial, agama dapat mengingatkan pentingnya persaudaraan dan kemanusiaan.
Kita tidak harus sepakat untuk dapat saling menghormati.
Kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk dapat hidup berdampingan.
Dan kita tidak perlu menjatuhkan keyakinan orang lain untuk menunjukkan bahwa kita mencintai keyakinan kita sendiri.
Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang.
Algoritma akan semakin pintar.
Artificial Intelligence akan semakin canggih.
Tetapi pertanyaan paling penting tetap berada pada manusia:
Untuk apa semua kecanggihan itu digunakan?
Jika teknologi digunakan untuk memperbesar kebencian, maka kecanggihan hanya membuat manusia lebih cepat saling melukai.
Jika agama digunakan untuk memenangkan pertengkaran, maka kesalehan hanya berubah menjadi identitas.
Namun, jika teknologi dan agama bertemu dalam nilai kemanusiaan, keduanya dapat menjadi kekuatan yang luar biasa.
Teknologi membawa manusia menuju masa depan.
Agama mengingatkan manusia agar tidak kehilangan arah.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin digital, kita tidak membutuhkan manusia yang semakin keras dalam mempertentangkan keyakinan.
Kita membutuhkan manusia yang semakin teguh dalam iman, semakin luas dalam wawasan, semakin santun dalam perbedaan, dan semakin manusiawi dalam kehidupan.
Karena pada akhirnya, keyakinan yang kokoh tidak membutuhkan penghinaan terhadap keyakinan orang lain untuk membuktikan dirinya benar. (*)
![]()



