Banner Sidebar
Banner Sidebar

Kualitas Perguruan Tinggi Berpengaruh terhadap Mutu Guru

Kualitas guru menjadi perhatian Kemendikdasmen. Perguruan tinggi dan LPTK didorong memperkuat kompetensi guru melalui lima kebijakan pendidikan.
Dapatkan berita terbaru di Kanal WA KLIK DISINI

Bali, BeritaSekolah.com – Kualitas guru memiliki hubungan yang sangat erat dengan mutu perguruan tinggi yang menjadi tempat lahirnya para tenaga pendidik. Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan guru dinilai perlu dimulai dari penguatan perguruan tinggi, khususnya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Guru yang mendapatkan pendidikan dan pembinaan berkualitas diharapkan mampu memberikan pembelajaran yang lebih baik kepada peserta didik. Dengan demikian, peningkatan mutu guru juga akan berdampak terhadap kualitas murid yang mereka didik.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti juga mengajak perguruan tinggi serta satuan pendidikan untuk membangun kerja sama dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan. Menurutnya, berbagai tantangan yang muncul seharusnya tidak menjadi alasan bagi setiap pihak untuk saling menyalahkan.

Sebaliknya, persoalan pendidikan dapat dijadikan kesempatan untuk memperkuat kolaborasi. Perguruan tinggi dan satuan pendidikan diharapkan dapat saling mendukung agar berbagai masalah pendidikan dapat ditangani secara bersama-sama.

Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), I Wayan Lasmawan, turut menekankan pentingnya peran LPTK dalam ekosistem pendidikan. Menurutnya, LPTK memiliki posisi strategis untuk menjawab persoalan yang berkaitan dengan kualitas serta profesionalisme guru.

LPTK, kata Lasmawan, tidak cukup hanya mengidentifikasi atau menyampaikan adanya persoalan pendidikan. Institusi tersebut juga harus hadir dan mengambil peran nyata dalam mencari serta menjalankan solusi bersama.

Lima Kebijakan Pendidikan yang Memerlukan Dukungan LPTK

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti memaparkan lima kebijakan Kemendikdasmen yang membutuhkan dukungan dari perguruan tinggi, terutama LPTK. Kebijakan tersebut berkaitan dengan pembelajaran, karakter, STEM, Bahasa Inggris, serta koding dan kecerdasan artifisial (AI).

1. Penerapan Pembelajaran Mendalam

Kebijakan pertama adalah penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning. Pendekatan ini menjadi salah satu strategi akademik untuk menjawab sejumlah persoalan dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran mendalam diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai tantangan, termasuk fenomena schooling without learning serta persoalan attention span pada peserta didik.

Kemendikdasmen memandang pendekatan tersebut sebagai salah satu solusi akademik untuk menghadapi persoalan akademik yang terjadi dalam proses pendidikan.

2. Penguatan Pendidikan Karakter

Kebijakan kedua berkaitan dengan penguatan pendidikan karakter melalui layanan bimbingan dan konseling.

Pendekatan yang digunakan diarahkan agar pembentukan karakter peserta didik dilakukan secara lebih humanis. Pendampingan terhadap murid menjadi bagian penting dalam proses tersebut sehingga pendidikan karakter tidak hanya berorientasi pada pemberian aturan atau hukuman.

3. Penguatan Pembelajaran STEM

Selanjutnya, Kemendikdasmen mendorong penguatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Penguasaan sains dan teknologi dinilai penting bagi Indonesia untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam mengolah kekayaan alam menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, Indonesia membutuhkan lebih banyak guru yang memiliki kemampuan dalam mengajarkan STEM kepada peserta didik.

Kemendikdasmen juga memperkenalkan konsep STEM 5M, yaitu pembelajaran STEM yang mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful.

4. Bahasa Inggris Menjadi Mata Pelajaran Wajib

Kebijakan keempat adalah penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib. Mata pelajaran tersebut direncanakan mulai diajarkan pada tahun akademik 2027–2028, dimulai dari kelas 3 SD.

Selain menyiapkan kebijakan pembelajaran, Kemendikdasmen juga melakukan pelatihan bagi guru kelas agar memiliki kemampuan mengajarkan Bahasa Inggris pada tingkat dasar.

Pendekatan basic skills of learning English yang digunakan akan mengedepankan kemampuan komunikasi serta proses pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik.

5. Koding dan Kecerdasan Artifisial

Kebijakan kelima berkaitan dengan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial atau AI. Materi tersebut direncanakan mulai diberikan kepada siswa sejak kelas 5 SD dan berlanjut hingga jenjang pendidikan menengah.

Penerapan koding dan AI menjadi bagian dari upaya menyiapkan peserta didik menghadapi perkembangan teknologi sekaligus kebutuhan kompetensi di masa depan.

Perguruan Tinggi Didorong Tingkatkan Kompetensi Guru

Pelaksanaan berbagai kebijakan pendidikan tersebut tentu membutuhkan guru dengan kompetensi yang memadai. Karena itu, perguruan tinggi, terutama LPTK, diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam peningkatan kapasitas tenaga pendidik.

Salah satu bentuk dukungan yang dibutuhkan adalah penyelenggaraan pelatihan serta berbagai program pengembangan kompetensi guru. Kemendikdasmen berharap pimpinan perguruan tinggi dapat bersama-sama memperkuat kualitas guru melalui berbagai program tersebut.

Peningkatan kompetensi guru menjadi semakin penting karena kebijakan pendidikan terus berkembang. Guru perlu mendapatkan dukungan agar mampu menerapkan pendekatan pembelajaran baru sesuai kebutuhan peserta didik.

Sinergi Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Dasar Menengah

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pendidikan tinggi dengan pendidikan dasar dan menengah.

Menurut Brian, sinergi antara bidang pendidikan, sains, dan teknologi diperlukan untuk mendorong lahirnya talenta-talenta unggul Indonesia.

Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas, tetapi juga mendorong pendidikan yang memberikan dampak nyata, memperkuat riset dan inovasi, serta meningkatkan kontribusi pengabdian kepada masyarakat.

Dengan adanya sinergi antara perguruan tinggi, LPTK, serta satuan pendidikan dasar dan menengah, berbagai kebijakan pendidikan diharapkan dapat diterapkan secara lebih efektif. Penguatan kualitas guru pun menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan peserta didik yang berkualitas dan mampu menghadapi kebutuhan masa depan.

Loading