JAKARTA, BeritaSekolah.com – Mengikuti Seminar 100 Tahun Kolese Kanisius pada 26 dan 27 Agustus kemarin benar-benar membuat saya berpikir ulang tentang masa depan kita. Di mana-mana, orang-orang membicarakan tentang kecerdasan buatan atau AI. Teman-teman di sekolah merasa senang karena dengan bantuan AI, mereka dapat belajar dengan lebih cepat, mencari informasi, dan mendapatkan soal-soal dengan mudah. Namun, dalam seminar kemarin, para pembicara mengingatkan kita pada satu pertanyaan besar: kalau semua jawaban dan informasi bisa diberikan oleh AI hanya dalam hitungan detik, untuk apa kita masih perlu datang ke sekolah?
Kalau sekolah hanya dianggap sebagai tempat untuk mencari materi pelajaran atau sekadar menghafal rumus, maka peran sekolah memang sudah kalah jauh dibanding AI. Namun, menganggap bahwa AI bisa dipakai dengan gampang untuk melatih refleksi diri dan membentuk karakter kita adalah pemikiran yang keliru. Ada dua alasan sederhana mengapa kita harus lebih kritis saat menggunakan AI sehari-hari.
Pertama, AI dirancang untuk memberi kita kemudahan secara instan. Saat kita panik atau bingung menghadapi tugas yang sulit, kita sering kali langsung membuka AI untuk mencari jalan keluar. Masalahnya, ketika semua jawaban didapatkan tanpa usaha keras, kita tidak lagi belajar rasanya bingung, mencoba, dan mengalami kegagalan. Padahal, cara berpikir kritis justru tumbuh saat otak kita diajak berjuang memecahkan masalah yang rumit. Rasa pantang menyerah atau nilai daya juang (competence) tidak akan pernah bisa terbentuk kalau kita selalu memilih cara yang gampang. Proses belajar yang sebenarnya memang butuh rasa lelah dan kesabaran saat menghadapi kesulitan.
Baca Juga : Perbaikan Sekolah Pascabencana Dipercepat, Tito Nilai Swakelola Efektif
Kedua, pelajaran tentang nilai moral dan nurani (conscience) tidak bisa dipelajari dari algoritma komputer. Refleksi diri yang jujur membutuhkan perasaan, pengalaman nyata, dan keberanian untuk mengambil keputusan yang benar di dunia nyata. AI hanya bekerja dengan mengolah data angka dan kata-kata, bukan karena AI punya rasa empati atau pemahaman tentang kebaikan. Kalau kita terlalu sering menyuruh AI membuatkan refleksi tugas atau menilai hal yang baik dan buruk, kita lama-lama akan terbiasa menyerahkan keputusan moral kita kepada mesin. Padahal, hubungan langsung dan percakapan mendalam antara guru dan murid adalah hal utama yang membentuk karakter kita di sekolah.
Oleh karena itu, sekolah di era AI ini harus mengubah cara pandangnya. Sekolah tidak boleh lagi cuma berlomba dengan AI dalam memberikan teori pelajaran. Sekolah harus tetap menjadi tempat untuk mengasah nurani, membentuk kepribadian, dan mendampingi kita secara langsung. Di sekolah, kita belajar hidup bermasyarakat agar tidak terus-menerus menatap layar HP. Rasa peduli (compassion) dan komitmen (commitment) hanya bisa tumbuh kalau kita melihat, mendengarkan, dan membantu sesama secara langsung, bukan hanya membaca teorinya di internet.
Di sinilah peran para guru menjadi sangat berharga. Guru tidak hanya mengajar di depan kelas, tetapi juga hadir sebagai pendamping yang peduli pada perkembangan kita sebagai manusia (cura personalis). Tanpa adanya interaksi langsung dan rasa peduli dari guru serta teman-teman di sekolah, proses belajar akan terasa dingin dan tidak bermakna.
Kesimpulannya, AI memang sangat berguna untuk membantu pekerjaan sederhana kita sehari-hari. Namun, AI bukanlah jawaban untuk semua hal dalam hidup kita. Sekolah harus tetap berdiri sebagai tempat untuk belajar menjadi manusia seutuhnya, yaitu manusia yang mau berpikir dalam, punya rasa empati, dan peduli pada orang lain.
![]()















