JAKARTA, BeritaSekolah.com — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memperkuat kerja sama dalam memperluas akses pendidikan tinggi dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sekaligus peluncuran Beasiswa Cendekia Palestina dan Dalam Negeri, Rabu (9/9).
Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperluas dukungan pendidikan tinggi melalui kolaborasi pemerintah dengan lembaga filantropi, sekaligus membuka ruang keterlibatan perguruan tinggi dan mahasiswa dalam program pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Sekolah Aman Tanpa Bullying, Kemenag Lamteng Dorong Perlindungan bagi Pelajar
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mengapresiasi kerja sama tersebut. Menurut Mendiktisaintek, dukungan BAZNAS yang bersumber dari dana para muzaki dapat menjadi tambahan dukungan bagi masyarakat, untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar alokasi beasiswa yang disediakan pemerintah.
“Dengan adanya kerja sama ini, BAZNAS yang tentunya memiliki dana-dana yang berasal dari para muzaki, itu salah satunya akan dimanfaatkan untuk beasiswa. Ini tentunya menjadi berita gembira bagi kami di insan perguruan tinggi, sehingga akan memperluas akses pendidikan tinggi,” ujar Menteri Brian.
Selain beasiswa, kerja sama Kemdiktisaintek dan BAZNAS juga mencakup pemberdayaan masyarakat yang melibatkan perguruan tinggi. Program-program BAZNAS dapat dihubungkan dengan kegiatan mahasiswa, termasuk KKN tematik dan pengabdian kepada masyarakat.
“Selain itu dana dari BAZNAS akan dimanfaatkan juga untuk pemberdayaan masyarakat yang akan melibatkan kampus-kampus. Jadi, baik beasiswa maupun pemberdayaan masyarakat nantinya akan berjalan inline dengan pelaksanaan KKN tematik dan juga program pengabdian masyarakat dari BEM-BEM,” kata Menteri Brian.
Kolaborasi tersebut memperluas ruang kontribusi perguruan tinggi. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan dukungan untuk menempuh pendidikan, tetapi juga dapat terlibat dalam kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui pengabdian dan pemberdayaan.
Kerja sama juga mencakup dukungan pendidikan bagi mahasiswa asal Palestina. Program ini sekaligus membuka peluang bagi perguruan tinggi Indonesia untuk memperkuat lingkungan akademik yang semakin beragam dan berorientasi internasional.
Menteri Brian mengatakan, dukungan beasiswa bagi mahasiswa Palestina dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi Indonesia.
“Beasiswa ini nantinya akan digunakan juga untuk meningkatkan jumlah mahasiswa asing di kampus-kampus kita, karena memang amanah dari pemberinya untuk program Palestina. Ini juga program yang sangat baik, sambil kita bantu saudara-saudara kita Palestina, kampus-kampus kita akan mendapatkan mahasiswa asing yang berdayaan, yang tentu sangat baik membangun atmosfer internasional di Indonesia,” ujar Mendiktisaintek.
Melalui skema tersebut, mahasiswa Palestina memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di Indonesia, sementara perguruan tinggi mitra mendapatkan ruang untuk memperkuat interaksi akademik dengan mahasiswa internasional. Untuk program Palestina, BAZNAS mengalokasikan Rp22 miliar bagi mahasiswa Palestina dengan melibatkan 22 perguruan tinggi mitra dan menyediakan 200 kuota penerima.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari penguatan Beasiswa Cendekia BAZNAS yang telah dikembangkan sejak 2017. Berdasarkan keterangan Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, program tersebut telah menjangkau sekitar 8.000–10.000 penerima dengan target sekitar 1.000 penerima per tahun, serta melibatkan 246 perguruan tinggi mitra, termasuk 112 perguruan tinggi di bawah Kemdiktisaintek.
Pada pelaksanaan 2026, Beasiswa Cendekia menargetkan 1.120 mahasiswa, dengan minimal 10 mahasiswa per perguruan tinggi. Beasiswa diberikan selama empat semester, disertai pendampingan hingga semester kedelapan, dengan unit cost sebesar Rp21 juta per mahasiswa. Program ini mencakup jenjang D3, S1, S2, dan S3, termasuk dukungan untuk penyelesaian disertasi dan kegiatan riset bagi mahasiswa S2 dan S3.
Penguatan kerja sama tersebut sejalan dengan perhatian BAZNAS terhadap pendidikan sebagai salah satu bidang prioritas dalam penyaluran zakat. Dalam paparannya, Sodik menyebut alokasi untuk pendidikan berada di kisaran 27%.
Sinergi ini juga sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi menghadirkan manfaat nyata melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kerja sama dengan BAZNAS, dukungan pendidikan dapat berjalan beriringan dengan keterlibatan kampus dan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat.
Penandatanganan MoU dan peluncuran Beasiswa Cendekia Palestina dan Dalam Negeri menjadi pijakan untuk memperluas akses pendidikan, memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi, serta memperluas kontribusi kampus bagi masyarakat. Kemdiktisaintek dan BAZNAS berkomitmen melanjutkan sinergi tersebut agar manfaat program dapat menjangkau lebih banyak penerima.
![]()















