Banner Sidebar
Banner Sidebar

BMKG Gelar Sekolah Lapang di Bireuen, Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Bencana

BMKG Gelar Sekolah Lapang di Bireuen, Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Bencana. (Foto : BMKG)
Dapatkan berita terbaru di Kanal WA KLIK DISINI

ACEH, BeritaSekolah.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyelenggarakan Sekolah Lapang Nelayan, Iklim, Gempa Bumi, dan Tsunami di Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh melalui peningkatan pengetahuan serta kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai potensi bencana.

Pelaksanaan kegiatan tersebut melibatkan sejumlah unsur, di antaranya Wakil Bupati Bireuen, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan Komisi V DPR RI, serta jajaran pejabat BMKG. Keterlibatan berbagai pihak ini menunjukkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memperkuat ketangguhan masyarakat di wilayah yang memiliki risiko bencana.

Melalui program Sekolah Lapang, BMKG mendorong agar pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali sarana dan prasarana. Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai ancaman bencana, kemampuan melakukan mitigasi, dan kesiapan menghadapi situasi darurat juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan tersebut.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa informasi yang dihasilkan melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu disampaikan dengan cara yang mudah dipahami masyarakat. Hal ini terutama penting bagi nelayan, petani, dan warga yang tinggal di kawasan pesisir, sehingga informasi cuaca, iklim, gempa bumi, serta tsunami dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

Menurut Faisal, pemahaman terhadap informasi ilmiah dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi ancaman di lingkungan masing-masing.

Ia juga menjelaskan bahwa pengetahuan ilmiah tidak dimaksudkan untuk mengesampingkan kearifan lokal yang telah lama tumbuh dan diwariskan oleh masyarakat Aceh. Sebaliknya, kedua sumber pengetahuan tersebut perlu dipadukan agar dapat saling mendukung dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana.

“Ketangguhan masyarakat tidak dapat dibangun hanya dengan infrastruktur. Pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kemampuan masyarakat dalam memahami informasi menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana,” ujar Faisal.

Lebih lanjut, Kepala BMKG tersebut menyampaikan bahwa upaya menghadapi ancaman cuaca ekstrem, perubahan iklim, gempa bumi, dan tsunami membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah pusat dan daerah, kalangan akademisi, dunia usaha, serta masyarakat perlu membangun sinergi agar informasi dan layanan kebencanaan dapat diterapkan secara nyata di lapangan.

Kegiatan Sekolah Lapang di Bireuen ini diikuti oleh 202 peserta. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di wilayah terdampak bencana agar lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana pada masa mendatang.

Melalui pembekalan yang diberikan, peserta diharapkan mampu mengenali berbagai potensi ancaman, memahami langkah-langkah mitigasi, serta menentukan tindakan yang sesuai ketika menghadapi keadaan darurat. Pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat membantu masyarakat melindungi diri dan lingkungan sekitarnya.

Wakil Bupati Bireuen, Razuardi Ibrahim, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan program yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, pemahaman mengenai informasi cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami sangat dibutuhkan untuk mendukung keselamatan serta aktivitas warga.

“Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga pemahaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap pengetahuan yang diberikan BMKG dapat semakin memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Bireuen dalam menghadapi potensi bencana,” ujar Razuardi.

Ia menambahkan bahwa koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, dan masyarakat perlu terus ditingkatkan. Dengan komunikasi yang baik, informasi mengenai potensi bencana diharapkan dapat diterima dan dipahami hingga ke tingkat masyarakat, sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan dengan lebih efektif.

BMKG berharap materi yang diperoleh selama Sekolah Lapang tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan bagi para peserta. Masyarakat diharapkan menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari dan membagikan informasi tersebut kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.

Dengan peningkatan pemahaman dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan, masyarakat Bireuen diharapkan semakin mampu menghadapi potensi bencana sekaligus menjaga keberlangsungan kegiatan sosial dan ekonomi di daerahnya.

Upaya ini menjadi bagian dari penguatan ketangguhan masyarakat pascabencana di Aceh, dengan menempatkan edukasi, pemanfaatan informasi kebencanaan, dan kolaborasi lintas sektor sebagai unsur penting dalam mengurangi risiko bencana.

Loading