Banner Sidebar
Banner Sidebar

Galeri Kejuruan BBPPMPV BMTI Cimahi Diresmikan, Jadi Wadah Inovasi Pendidikan Vokasi dan AI

Galeri Kejuruan di Cimahi Resmi Diresmikan, Jadi Pusat Inovasi SMK dan Teknologi AI. (Foto : Kemendikdasmen)
Dapatkan berita terbaru di Kanal WA KLIK DISINI

CIMAHI, BERITASEKOLAH.COM – Gedung Galeri Kejuruan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Cimahi, Jawa Barat, resmi digunakan sebagai wadah untuk menampilkan berbagai inovasi pendidikan vokasi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan Galeri Kejuruan tersebut pada Senin (21/9). Peresmian itu sekaligus menjadi bagian dari pembukaan Gelar Karya Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Vokasi.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Etalase Karya, Kemitraan Industri, dan AI untuk Transformasi Pendidikan Vokasi”. Berbagai hasil karya guru dan inovasi teknologi dipamerkan sebagai gambaran perkembangan pendidikan vokasi di Indonesia.

Menurut Abdul Mu’ti, keberadaan Galeri Kejuruan tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan atau memamerkan produk. Galeri tersebut diharapkan menjadi ruang yang terus berkembang dengan menghadirkan karya dan inovasi baru dari sekolah menengah kejuruan (SMK) serta lembaga pendidikan vokasi.

Ia berharap koleksi yang ditampilkan dapat diperbarui secara berkala, terutama setiap tahun. Dengan demikian, perkembangan teknologi, kreativitas guru, serta berbagai capaian SMK di Indonesia dapat terus terlihat.

Baca Juga : PMI Jakarta Timur Salurkan Perlengkapan Sekolah untuk Anak Korban Kebakaran Ujung Menteng

Galeri Kejuruan Jadi Pusat Inovasi

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa peresmian Galeri Kejuruan menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan kualitas pendidikan vokasi agar tidak berhenti pada konsep.

Menurut Tatang, dunia pendidikan vokasi menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perkembangan teknologi yang berlangsung cepat hingga penerapan kerja sama dengan industri yang masih perlu diperkuat dalam proses pembelajaran.

Selain itu, pemanfaatan teknologi untuk kegiatan belajar mengajar juga dinilai belum merata di seluruh satuan pendidikan.

Karena itu, keberadaan Galeri Kejuruan diharapkan menjadi salah satu ruang untuk menunjukkan bahwa berbagai tantangan tersebut dapat dijawab melalui karya dan kegiatan yang nyata.

Galeri ini dirancang sebagai ruang inovasi bagi guru untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menjadi tempat bagi siswa menghasilkan berbagai karya. Hubungan antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) juga diarahkan agar menghasilkan program yang benar-benar diterapkan dalam pembelajaran.

Bentuk kerja sama tersebut antara lain pengembangan teaching factory, penyusunan kurikulum bersama industri, pelaksanaan proyek, hingga sertifikasi kompetensi yang dapat membantu siswa mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Tatang menekankan bahwa kerja sama antara lembaga pendidikan dengan industri tidak cukup hanya diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman. Kemitraan tersebut harus memberikan dampak langsung terhadap proses pembelajaran di sekolah.

Ratusan Guru Ikuti Pelatihan Kompetensi

Pengembangan kemampuan tenaga pendidik juga dilakukan melalui Pelatihan Daring Terbimbing Angkatan 6. Program tersebut terbagi dalam 16 kelas dengan jumlah peserta mencapai 320 guru SMK.

Selain itu, sebanyak 16 instruktur dari lembaga kursus dan pelatihan (LKP) mengikuti pelatihan untuk mengembangkan produksi iklan animasi 3D yang memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Berbagai karya yang dihasilkan peserta kemudian ditampilkan dalam gelar karya. Produk tersebut menjadi gambaran bahwa peningkatan kompetensi pendidik tidak hanya menghasilkan sertifikat pelatihan, tetapi juga dapat melahirkan perangkat pembelajaran, produk kreatif, serta inovasi yang dapat diterapkan di ruang kelas maupun bengkel praktik.

Kemitraan Pendidikan Vokasi Diperkuat

Dalam agenda tersebut, Abdul Mu’ti juga menyaksikan penguatan kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia industri.

Salah satunya melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dengan PT ASIX Indonesia Cerdas.

Kerja sama tersebut menjadi landasan untuk pengembangan kompetensi pendidikan vokasi yang berkaitan dengan kecerdasan artifisial, robotika, serta teknologi drone.

Kolaborasi bersama PT ASIX Indonesia Cerdas juga mencakup pengembangan platform AI vokasi. Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu guru dalam menyusun modul pembelajaran, melakukan personalisasi proses belajar, serta mengurangi beban administratif.

Selain itu, BBPPMPV BMTI melakukan penandatanganan rencana kerja bersama PT Agate International dan PT Handal Yesindo Sejahtera. Kerja sama tersebut menjadi tindak lanjut pengembangan kemitraan industri, khususnya dalam bidang konten dan teknologi pembelajaran.

Pendidikan Formal dan Nonformal Perlu Terhubung

Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya hubungan antara pendidikan formal dan nonformal dalam mempersiapkan lulusan menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Pemerintah, kata dia, tengah merancang skema yang memungkinkan lulusan SMA maupun SMK tidak hanya mendapatkan ijazah, tetapi juga memperoleh sertifikat kompetensi melalui program kursus dan pelatihan.

Menurutnya, penguatan kompetensi tersebut diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi peserta didik dalam mempersiapkan karier setelah menyelesaikan pendidikan.

Ia juga mengajak siswa SMK untuk memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimiliki. Pendidikan vokasi dinilai memiliki peran penting karena memberikan bekal keterampilan yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha.

AI Harus Digunakan Secara Bertanggung Jawab

Pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pendidikan vokasi juga menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut.

Abdul Mu’ti menekankan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tidak semata-mata dilakukan untuk mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat proses pembelajaran dengan tetap memperhatikan tanggung jawab serta nilai-nilai yang sesuai dengan budaya Indonesia.

Sementara itu, Tatang Muttaqin meminta agar berbagai hasil yang telah ditampilkan dalam kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan setelah acara selesai.

Menurutnya, peresmian fasilitas harus diikuti dengan pemanfaatan yang memberikan manfaat bagi sekolah, guru, siswa, serta dunia industri. Demikian pula dengan berbagai bentuk kerja sama yang telah disepakati harus diwujudkan melalui kegiatan nyata.

Pengembangan pendidikan vokasi pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas, penerapan teknologi, atau penandatanganan kerja sama. Hal yang lebih penting adalah memastikan guru dan siswa memperoleh ruang untuk terus berkembang sehingga pendidikan vokasi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.

Loading