Banner Sidebar
Banner Sidebar
Opini  

Ketika Ranking Kampus Berbicara Lebih dari Sekadar Angka

Santhi Pertiwi

Oleh: Santhi Pertiwi

Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili sikap redaksi BeritaSekolah.com

Bagan mengenai peringkat universitas di Asia Tenggara kembali menarik perhatian. Di dalamnya terlihat perbedaan skor yang cukup lebar antara sejumlah perguruan tinggi di kawasan ini. Ada universitas yang memperoleh skor sangat tinggi, sementara beberapa perguruan tinggi Indonesia berada pada posisi yang cukup jauh di bawahnya.

Perbedaan tersebut tentu mengundang pertanyaan. Mengapa universitas di negara tetangga dapat memperoleh skor yang begitu tinggi? Apakah itu berarti mahasiswa dan dosen di Indonesia kalah pintar? Apakah kualitas akademiknya memang jauh tertinggal?

Pertanyaan tersebut sebenarnya perlu dijawab dengan lebih hati-hati.

Sebuah peringkat universitas tidak dapat digunakan untuk menentukan siapa yang paling cerdas. Angka dalam ranking merupakan gambaran mengenai kinerja institusi berdasarkan sejumlah ukuran tertentu. Di dalamnya terdapat persoalan reputasi akademik, penelitian, pengaruh karya ilmiah, kualitas lulusan, pengalaman belajar, hubungan internasional, hingga keberlanjutan.

Karena itu, ketika sebuah universitas memperoleh skor lebih tinggi, tidak berarti seluruh mahasiswa dan dosennya otomatis lebih pintar dibandingkan mereka yang berada di universitas dengan skor lebih rendah.

Yang sedang dibandingkan adalah kekuatan sistem dan ekosistem perguruan tingginya.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Selama ini, pembicaraan mengenai peningkatan kualitas perguruan tinggi Indonesia sering kali sangat dekat dengan satu kata: publikasi.

Publikasi internasional dianggap sebagai salah satu tanda bahwa sebuah perguruan tinggi telah masuk ke dalam percaturan akademik dunia. Pandangan tersebut tidak salah. Penelitian memang perlu dipublikasikan agar dapat diketahui, diuji, dikritisi, dan dikembangkan oleh peneliti lain.

Tetapi apakah perguruan tinggi cukup hanya dengan menghasilkan banyak artikel?

Rasanya tidak.

Artikel yang sudah diterbitkan bukanlah akhir dari sebuah penelitian. Justru setelah artikel diterbitkan, pertanyaan yang lebih penting seharusnya muncul.

Apakah penelitian tersebut dibaca oleh orang lain?

Apakah menjadi rujukan penelitian berikutnya?

Apakah menghasilkan gagasan baru?

Apakah memberikan solusi terhadap persoalan tertentu?

Apakah digunakan oleh pemerintah?

Apakah dimanfaatkan masyarakat?

Apakah menarik perhatian dunia industri?

Apakah menghasilkan teknologi, model, kebijakan, atau inovasi?

Jika jawabannya tidak, maka kita perlu berhati-hati ketika menjadikan jumlah publikasi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan akademik.

Jangan sampai perguruan tinggi menjadi sangat sibuk menghitung berapa artikel yang berhasil diterbitkan, tetapi lupa menghitung berapa banyak perubahan yang dihasilkan dari penelitian tersebut.

Publikasi tentu tetap penting. Bahkan sangat penting. Namun, publikasi seharusnya menjadi pintu masuk bagi pengetahuan untuk berkembang lebih jauh, bukan sekadar menjadi angka dalam laporan kinerja.

Masalah berikutnya adalah biaya.

Publikasi internasional pada jurnal bereputasi dapat membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam kondisi tertentu, biaya tersebut memang dapat dianggap sebagai investasi akademik. Namun, menjadi persoalan ketika biaya publikasi yang dikeluarkan sangat besar sementara manfaat penelitian yang dihasilkan tidak jelas.

Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa uang yang dikeluarkan untuk penelitian dan publikasi sebanding dengan kualitas dan manfaat yang dihasilkan.

Jangan sampai penelitian berbiaya besar hanya berakhir sebagai artikel yang tersimpan di sebuah basis data dan kemudian tidak pernah digunakan lagi.

Yang perlu dibangun adalah budaya penelitian, bukan sekadar budaya mengejar publikasi.

Budaya penelitian berarti dosen memiliki kesempatan untuk mengembangkan kepakaran secara konsisten. Peneliti memiliki waktu dan dukungan untuk melakukan penelitian yang serius. Mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan penelitian. Kelompok-kelompok riset dikembangkan. Laboratorium diperkuat. Pendanaan penelitian dibuat berkelanjutan. Kerja sama dengan perguruan tinggi lain dibangun secara serius.

Lebih penting lagi, universitas harus memiliki keberanian untuk menentukan bidang apa yang ingin menjadi kekuatannya.

Tidak semua perguruan tinggi harus menjadi unggul dalam semua bidang.

Sebuah universitas dapat memilih beberapa bidang yang benar-benar ingin dikembangkan secara serius. Misalnya pendidikan, teknologi digital, kesehatan, pangan, energi, kemaritiman, lingkungan, kebencanaan, ekonomi, atau bidang lainnya.

Ketika kepakaran tersebut dibangun secara konsisten selama bertahun-tahun, masyarakat akademik akan mulai mengenal universitas tersebut melalui kekuatannya.

Reputasi tidak lahir hanya karena sebuah kampus memasang label “world class university”.

Reputasi lahir karena karya yang konsisten dan diakui.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara penelitian dengan kehidupan nyata.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya intelektual yang besar. Di sisi lain, masyarakat Indonesia menghadapi begitu banyak persoalan. Pendidikan, kesehatan, kemiskinan, teknologi, lingkungan, transportasi, UMKM, ketahanan pangan, kebencanaan, tata kelola pemerintahan, hingga transformasi digital merupakan persoalan yang membutuhkan pemikiran akademik.

Persoalan-persoalan tersebut seharusnya dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk menghasilkan penelitian yang bermakna.

Penelitian pendidikan, misalnya, tidak seharusnya berhenti pada artikel tentang model pembelajaran. Jika model tersebut benar-benar baik, mengapa tidak diuji lebih luas, dikembangkan menjadi program, diterapkan di sekolah, dan kemudian dievaluasi dampaknya?

Penelitian tentang teknologi juga tidak seharusnya berhenti pada laporan penelitian. Jika menghasilkan teknologi yang bermanfaat, mengapa tidak dikembangkan menjadi prototipe dan kemudian digunakan oleh masyarakat atau industri?

Penelitian sosial pun demikian. Jika menghasilkan temuan tentang persoalan masyarakat, mengapa tidak dikembangkan menjadi rekomendasi kebijakan atau program pemberdayaan?

Di sinilah perguruan tinggi perlu bergerak dari menghasilkan pengetahuan menuju menggunakan pengetahuan.

Universitas yang kuat bukan hanya tempat orang menulis tentang masalah. Universitas juga harus menjadi tempat lahirnya solusi.

Persoalan lainnya adalah internasionalisasi.

Menjadi universitas yang dikenal secara global tentu membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan dunia internasional. Bahasa Inggris menjadi salah satu modal penting karena sebagian besar komunikasi ilmiah internasional berlangsung menggunakan bahasa tersebut.

Namun, internasionalisasi tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan bahasa Inggris.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah pintu komunikasi internasional terbuka.

Apakah dosen Indonesia memiliki mitra penelitian dari luar negeri?

Apakah ada penelitian bersama?

Apakah mahasiswa dapat belajar dan melakukan penelitian bersama mahasiswa dari negara lain?

Apakah profesor dari berbagai negara datang dan berinteraksi secara akademik?

Apakah penelitian yang dilakukan di Indonesia menjadi perhatian peneliti dunia?

Apakah universitas Indonesia mampu menjadi mitra yang dicari oleh perguruan tinggi asing?

Jika belum, berarti pekerjaan rumahnya bukan sekadar meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Yang perlu dibangun adalah kepercayaan dan jejaring akademik internasional.

Begitu pula dengan mahasiswa.

Mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penerima materi kuliah. Mereka perlu dikenalkan dengan budaya penelitian sejak dini. Mereka perlu belajar membaca penelitian, mempertanyakan temuan, mengolah data, menyusun argumentasi, dan menghasilkan gagasan.

Mahasiswa pascasarjana bahkan seharusnya menjadi bagian penting dari kelompok penelitian universitas.

Dengan cara tersebut, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang memperoleh ijazah, tetapi menghasilkan manusia yang mampu berpikir, meneliti, menemukan, dan memecahkan persoalan.

Hal yang sama berlaku bagi dosen.

Dosen tidak seharusnya hanya dilihat dari berapa banyak artikel yang dihasilkan dalam satu tahun. Lebih jauh dari itu, perlu dilihat kepakaran apa yang berhasil dibangun.

Dosen yang memiliki kepakaran kuat akan memiliki peluang lebih besar untuk menjadi rujukan dalam bidangnya. Ia dapat membangun kelompok penelitian, bekerja sama dengan peneliti lain, memperoleh kepercayaan dari lembaga luar, menghasilkan penelitian berkelanjutan, serta memberikan kontribusi yang lebih besar.

Dengan demikian, perguruan tinggi seharusnya tidak hanya bertanya, “Berapa publikasi yang dihasilkan dosen?”

Pertanyaan yang lebih bermakna adalah:

“Kepakaran apa yang sedang kita bangun?”

“Masalah apa yang sedang kita pecahkan?”

“Seberapa besar penelitian kita digunakan?”

“Seberapa jauh karya akademik kita memberikan pengaruh?”

Pada akhirnya, bagan ranking universitas tersebut sebaiknya tidak dilihat sebagai alasan untuk merasa rendah diri atau membandingkan siapa yang lebih pintar.

Bagan tersebut justru dapat menjadi cermin.

Ia mengingatkan bahwa persaingan perguruan tinggi saat ini bukan hanya mengenai siapa yang memiliki mahasiswa pintar, gedung bagus, atau dosen bergelar tinggi.

Persaingannya sudah bergerak pada pertanyaan yang lebih luas: siapa yang mampu membangun ekosistem pengetahuan yang kuat dan memberikan pengaruh lebih besar?

Karena itu, pekerjaan rumah perguruan tinggi Indonesia bukan sekadar memperbanyak artikel internasional.

Yang lebih penting adalah memperbaiki seluruh ekosistemnya: meningkatkan mutu penelitian, membangun kepakaran dosen, memperkuat kelompok riset, melibatkan mahasiswa, memperluas jejaring internasional, memperbaiki kualitas lulusan, membangun hubungan dengan industri dan masyarakat, serta memastikan hasil penelitian benar-benar dapat dimanfaatkan.

Publikasi adalah bukti bahwa pengetahuan telah dituliskan.

Tetapi dampak adalah bukti bahwa pengetahuan tersebut telah bekerja.

Dan mungkin, di sinilah ukuran keberhasilan perguruan tinggi seharusnya mulai diperluas.

Bukan hanya bertanya:

“Berapa artikel yang sudah diterbitkan?”

Tetapi juga:

“Apa yang berubah setelah penelitian itu dilakukan?”

Sebab universitas yang benar-benar kuat bukan hanya universitas yang banyak menulis.

Universitas yang kuat adalah universitas yang mampu membuat pengetahuannya hidup, digunakan, dipercaya, dan memberikan perubahan.(*)

Loading