JAKARTA, BeritaSekolah.com — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan tantangan besar pendidikan masih dihadapi siswa di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam penilaian terbaru Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), kemampuan siswa di negara-negara OECD mengalami penurunan, terutama dalam membaca dan matematika.
Baca Juga:4 dari 10 Siswa Dunia Belum Mahir Membaca, Bagaimana Kondisi Anak Indonesia?
PISA 2025 melibatkan lebih dari 760.000 siswa berusia 15 tahun dari 91 negara dan wilayah. Penilaian tahun ini menempatkan sains sebagai fokus utama, sementara membaca dan matematika tetap menjadi bagian dari pengukuran kemampuan siswa. OECD menyebut rata-rata capaian negara-negara OECD dalam membaca, matematika dan sains berada pada level terendah yang pernah tercatat dalam PISA.
Baca Juga: 174 Ribu Guru Belum S1/D4, Pemerintah Buka Lagi Program Beasiswa
Di tengah penurunan global tersebut, Indonesia mencatat skor 408 untuk membaca, 377 untuk matematika, dan 409 untuk sains. Jika dibandingkan dengan rata-rata OECD yang masing-masing berada di sekitar 466 untuk membaca, 469 untuk matematika, dan 486 untuk sains, capaian Indonesia masih berada cukup jauh di bawah rata-rata negara OECD.
Matematika menjadi salah satu tantangan terbesar Indonesia. Dengan skor 377, Indonesia berada di posisi 71 dari 89 peserta yang memiliki data matematika dalam PISA 2025. Untuk sains, Indonesia memperoleh 409 poin dan berada di posisi 67 dari 90 peserta, sedangkan membaca dengan skor 408 menempatkan Indonesia di posisi 52 dari 89 peserta.
Meski demikian, hasil PISA 2025 tidak seluruhnya menunjukkan kemunduran bagi Indonesia. Sains menjadi bidang yang mencatat peningkatan dibandingkan PISA 2022, dari 403 menjadi 409 poin. Sementara itu, perubahan skor membaca dan matematika dibandingkan 2022 dinilai tidak signifikan secara statistik.
OECD juga mencatat bahwa Indonesia telah mempersempit kesenjangan capaian dengan rata-rata OECD dalam jangka panjang. Namun, kesenjangan tersebut masih besar. Pada 2025, sekitar 43,8 persen siswa Indonesia berada di bawah tingkat kecakapan minimum dalam ketiga bidang sekaligus, lebih dari dua kali rata-rata OECD yang mencapai 19,7 persen.
Hasil PISA 2025 juga memperlihatkan perubahan besar dalam lingkungan belajar anak. OECD menyoroti penggunaan perangkat digital, media sosial, serta AI yang semakin kuat dalam kehidupan siswa. Penggunaan teknologi tidak otomatis berdampak buruk, tetapi pemanfaatan yang berlebihan atau sekadar menjadi distraksi berkaitan dengan capaian belajar yang lebih rendah.
Bagi Indonesia, hasil tersebut menjadi tantangan sekaligus bahan evaluasi. Peningkatan capaian sains menunjukkan adanya perkembangan yang patut diapresiasi, tetapi rendahnya kemampuan matematika dan masih besarnya jumlah siswa yang belum mencapai kompetensi minimum menunjukkan perlunya penguatan fondasi literasi, numerasi, kemampuan berpikir kritis, serta penggunaan teknologi dan AI secara tepat dalam pembelajaran. PISA 2025 pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai peringkat antarnegara, tetapi juga tentang seberapa siap siswa menghadapi dunia yang semakin digital. (*)
![]()









