Sekolah Rakyat NTB Jadi Benteng Perlindungan Anak dari Berbagai Risiko

Berita Sekolah menyampaikan informasi tentang Sekolah Rakyat NTB Jadi Benteng Perlindungan Anak dari Berbagai Risiko, semoga informasi ini bermanfaat


Bersama ini kami sampaikan informasi Tentang Sekolah Rakyat NTB Jadi Benteng Perlindungan Anak dari Berbagai Risiko Sebagai berikut:

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan keberadaan Sekolah Rakyat di wilayah itu menjadi ruang yang aman bagi aktivitas pendidikan anak.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak NTB, Ahmad Masyhuri menegaskan kehadiran Sekolah Rakyat merupakan bentuk perlindungan negara terhadap anak-anak dari kelompok paling rentan, khususnya mereka yang berada pada desil terbawah tingkat kesejahteraan.

“Sesungguhnya pembentukan Sekolah Rakyat ini adalah untuk melindungi anak-anak kita yang berada di garis terbawah kesejahteraan. Yang paling diutamakan itu desil 1 dan 2. Artinya mereka yang benar-benar tidak mampu,” ujarnya di Mataram, Selasa.

Ia mengatakan Sekolah Rakyat hadir dengan konsep yang tidak hanya berfokus pada akses pendidikan bagi masyarakat miskin, tetapi juga menekankan lingkungan belajar yang ramah anak.

“Sekolah Rakyat tidak hanya menampung anak dari keluarga miskin, tetapi juga anak-anak dengan latar belakang sosial kompleks, seperti korban penelantaran hingga trauma akibat peristiwa tertentu,” kata Masyhuri.

Ia mencontohkan seorang siswa di kawasan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat yang mengalami trauma berat setelah menyaksikan orang tuanya meninggal saat gempa.

“Anak-anak seperti ini kita berikan tempat yang aman. Di sekolah rakyat ada psikolog yang mendampingi, jadi tidak hanya pendidikan formal, tapi juga pemulihan mental,” terangnya.

Konsep sekolah berasrama menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan. Dengan sistem ini, pengawasan terhadap anak lebih optimal dan potensi pengaruh negatif dari luar dapat diminimalkan.

“Sekolah rakyat ini sangat aman. Karena berasrama, anak-anak terlindungi dari pengaruh luar, dan pengawasannya juga ketat,” ujar Masyhuri.

Ia juga menegaskan, bahwa hingga saat ini tidak ditemukan kasus kekerasan di lingkungan Sekolah Rakyat di NTB. Justru, menurut dia, dinamika yang terjadi lebih banyak terkait kedekatan emosional keluarga yang kesulitan berpisah dengan anak.

“Yang ada justru karena kasih sayang orang tua yang berlebihan, ingin mengambil kembali anaknya. Tapi kita beri pemahaman agar anak bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik,” ucap mantan Kadis Koperasi dan UKM NTB ini.

Ia menambahkan, dari sisi fasilitas Sekolah Rakyat dirancang dengan standar tinggi. Seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari biaya pendidikan, makan, tempat tinggal, hingga perlengkapan belajar berbasis teknologi.

“Anak-anak sudah menggunakan komputer, belajar dengan media digital, bahkan papan tulisnya sudah elektronik. Fasilitasnya sangat baik,” ucapnya.

Saat ini NTB telah memiliki lima Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar dari jenjang SD hingga SMA, antara lain di Gunung Sari -Lombok Barat, Lombok Timur, dan Sumbawa. Sementara itu, satu sekolah permanen tengah dibangun di Kabupaten Lombok Utara dengan konsep terintegrasi dari SD hingga SMA.

Selain pembangunan fisik, pemerintah juga memastikan kualitas tenaga pendidik. Proses rekrutmen dilakukan pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial, namun tetap melibatkan tenaga lokal yang memiliki kompetensi.

“Guru dan tenaga pendidiknya banyak dari lokal, termasuk ASN dan tenaga PPPK berlatar belakang pendidikan. Mereka juga mendapatkan pelatihan dari pusat,” ucapnya.

Untuk memastikan program tepat sasaran, seleksi siswa dilakukan secara ketat melalui validasi data oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pemerintah desa, hingga pemerintah pusat. Sasaran utama tetap anak-anak dari keluarga miskin dan kelompok rentan.

Demikian kami sampaikan informasi Sekolah Rakyat NTB Jadi Benteng Perlindungan Anak dari Berbagai Risiko semoga bermanfaat.

Anda Ingin Melakukan Polling, Silahkan di PollingKita.com