MALANG, BeritaSekolah.com – Transformasi perguruan tinggi menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan nasional, termasuk persoalan pengangguran, kesenjangan keterampilan tenaga kerja, dan peningkatan produktivitas ekonomi daerah.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya berfokus pada prestasi akademik. Kampus juga harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Pernyataan tersebut disampaikan Fauzan dalam dua kegiatan akademik di Malang, Jawa Timur, Minggu (18/10/2026), yakni Dies Natalis ke-72 Universitas Negeri Malang (UM) dan Wisuda Sarjana serta Pascasarjana ke-X Universitas Islam Raden Rahmat (Unira).
Angka Pengangguran Lulusan Perguruan Tinggi Jadi Perhatian
Pentingnya transformasi perguruan tinggi semakin terlihat dari kondisi ketenagakerjaan Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tingkat pengangguran nasional pada 2026 mencapai 4,65 persen atau sekitar 7,28 juta orang. Sementara itu, tingkat pengangguran di Jawa Timur tercatat sebesar 3,42 persen.
Persoalan pengangguran juga masih dihadapi lulusan pendidikan tinggi.
Pada Mei 2026, sekitar 1,03 juta penganggur merupakan lulusan jenjang D4, S1, S2, dan S3. Jumlah tersebut setara dengan 14,31 persen dari keseluruhan penganggur.
Persentase itu meningkat dibandingkan November 2025 yang tercatat sebesar 12,37 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kesesuaian antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.
Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga individu yang memiliki keterampilan praktis, mampu beradaptasi, serta siap menghadapi perubahan dunia industri.
Fauzan Tekankan Pentingnya Kampus Berdampak bagi Masyarakat
Dalam orasi ilmiah Dies Natalis ke-72 Universitas Negeri Malang, Fauzan menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi harus menyentuh perubahan pola pikir dan orientasi penyelenggaraan perguruan tinggi.
Menurutnya, keberhasilan sebuah universitas tidak semata-mata diukur berdasarkan kemegahan fasilitas, jumlah profesor, maupun reputasi akademik.
Lebih dari itu, kampus perlu menunjukkan sejauh mana ilmu pengetahuan, penelitian, dan sumber daya yang dimiliki dapat membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Fauzan mengingatkan bahwa masih terdapat berbagai tantangan sosial di sekitar perguruan tinggi, termasuk kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.
Oleh karena itu, institusi pendidikan tinggi perlu memperkuat perannya sebagai mitra pembangunan yang aktif memberikan solusi.
Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan tata kelola, pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi secara terintegrasi, serta peningkatan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Kerja sama antara kampus, pemerintah daerah, dunia usaha, dan sektor industri dinilai penting untuk memastikan hasil pendidikan dan penelitian dapat dimanfaatkan secara optimal.
Universitas Negeri Malang Perkuat Kualitas Akademik dan Penelitian
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Negeri Malang, Hariyono, menyampaikan sejumlah perkembangan positif yang berhasil dicapai institusinya.
Pada 2026, Universitas Negeri Malang tercatat memiliki 164 guru besar dan 579 dosen berkualifikasi doktor.
Selain peningkatan kualitas sumber daya manusia, jumlah program studi di universitas tersebut juga mengalami pertumbuhan.
Jika pada 2023 terdapat 114 program studi, jumlahnya meningkat menjadi 154 program studi pada 2026.
Dari keseluruhan program studi tersebut, sebanyak 105 telah memperoleh akreditasi unggul.
Pencapaian tersebut menjadi modal penting bagi Universitas Negeri Malang untuk memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, dan pengembangan institusi.
Meski demikian, Fauzan mendorong agar berbagai prestasi akademik tersebut dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang lebih luas.
Menurutnya, peningkatan kualitas perguruan tinggi perlu berjalan seiring dengan kebutuhan mahasiswa, perkembangan industri, serta tantangan pembangunan daerah.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan kampus tidak hanya terletak pada banyaknya lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga pada manfaat penelitian dan kontribusi sosial ekonomi yang dihasilkan.
Lulusan Perguruan Tinggi Didorong Menjadi Bagian dari Solusi
Pesan mengenai pentingnya pendidikan tinggi yang berdampak kembali disampaikan Fauzan ketika menghadiri Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-X Universitas Islam Raden Rahmat.
Di hadapan para wisudawan, ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses pembelajaran.
Sebaliknya, para lulusan akan menghadapi tantangan kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan ketika masih berada di lingkungan kampus.
Fauzan menjelaskan bahwa kemampuan akademik perlu didukung dengan integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi persoalan.
Menurutnya, masyarakat akan menjadi pihak yang menilai secara langsung kualitas dan kontribusi para lulusan.
Karena itu, gelar akademik harus diikuti kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Fauzan juga mengingatkan agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja.
Para alumni didorong untuk terus mengembangkan potensi, mengenali keunggulan pribadi, dan membuka peluang kontribusi melalui berbagai bidang.
Kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah Perlu Diperluas
Selain memberikan pesan kepada wisudawan, Fauzan turut menyoroti pentingnya kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
Ia mendorong Universitas Islam Raden Rahmat untuk meningkatkan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Malang serta berbagai mitra strategis.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat menghasilkan solusi berbasis penelitian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Fauzan juga menilai kegiatan akademik, termasuk wisuda, memiliki potensi untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Penyelenggaraan kegiatan kampus di wilayah tertentu dapat membantu menggerakkan usaha lokal sekaligus memperkenalkan kesempatan pendidikan tinggi kepada masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, keberadaan perguruan tinggi diharapkan semakin dekat dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Transformasi Pendidikan Tinggi Dukung Indonesia Emas 2045
Penguatan peran perguruan tinggi tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Salah satu fokus utamanya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kesejahteraan masyarakat.
Melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong perguruan tinggi agar lebih aktif menjawab kebutuhan pembangunan.
Program pendidikan, kegiatan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat diharapkan tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling mendukung dalam menghasilkan perubahan positif.
Kampus juga didorong untuk memperluas kemitraan dengan dunia industri, pemerintah, dan masyarakat sehingga inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara langsung.
Pada akhirnya, transformasi perguruan tinggi bukan sekadar upaya meningkatkan kualitas institusi pendidikan.
Perubahan tersebut juga bertujuan menghadirkan lulusan yang kompeten, berintegritas, memiliki daya saing, serta mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan bangsa.
Dengan memperkuat relevansi pendidikan dan kolaborasi lintas sektor, perguruan tinggi diharapkan menjadi salah satu penggerak penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
![]()















