Bersama ini kami sampaikan informasi Tentang Sekolah Terdampak Gempa NTT Jadi Prioritas Revitalisasi Kemendikdasmen Sebagai berikut:
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan memprioritaskan program Revitalisasi bagi satuan pendidikan yang terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Muti, mengungkapkan, pemerintah terus melakukan pendataan terhadap satuan pendidikan yang terdampak bencana sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan yang dapat diakomodasi melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. “Kami memberikan bantuan prioritas untuk sekolah-sekolah yang terdampak untuk mendapatkan revitalisasi tahun 2026.” ujar Mendikdasmen dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Nagekeo, Senin (24/8).
Pendataan dampak dan kebutuhan pendidikan dilakukan secara berkala melalui formulir daring dan ditampilkan secara terbuka melalui portal data BNPB sehingga perkembangan kondisi satuan pendidikan dapat dipantau dan menjadi dasar penentuan dukungan.
Selanjutnya, kata Mendikadsmen, setelah proses pendataan dan perhitungan kebutuhan selesai, Kemendikdasmen akan segera menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Lalu pembangunan dapat segera dimulai setelah dana Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahap kedua untuk program revitalisasi sekolah masuk dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan dana disalurkan kepada sekolah.
“Nanti setelah ada verifikasi dan validasi, akan ada perjanjian kerja sama, dan setelah semuanya clear, akan dimulai pembangunannya,” lanjutnya.
Sebelum revitalisasi dimulai, Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan awal bagi satuan pendidikan dan warga sekolah terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo dan Ngada berupa logistik dasar, seperti 9.400 buku nonteks, 495 _school kit_, 30 _family kit_, 1.000 kaos, dan 1.650 paket makanan. Selain itu, pemerintah turut menyiapkan dana tunai berbentuk voucher sebesar Rp860 juta untuk 61 sekolah.
“Kita tetap optimis dan semangat bahwa semua musibah dan bencana ini dapat kita atasi bersama. Saat ini yang terpenting adalah kita saling bekerja sama, saling mendukung, dan bersama-sama memulihkan kondisi setelah bencana ini,” tutur Mendikdasmen.
Jumlah satuan Pendidikan terdampak
Berdasarkan data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026, sebanyak 1.268 dari 1.378 satuan pendidikan terdampak telah melaporkan kondisi atau sekitar 92 persen. Satuan Pendidikan terdampak tersebut berada di tujuh kabupaten dengan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Secara rinci, dari 8.664 ruang kelas yang terdata, sebanyak 5.521 ruang kelas atau 63,7 persen mengalami kerusakan, termasuk 2.229 ruang kelas yang rusak berat atau total. Kerusakan juga terjadi pada laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, dan rumah dinas guru. Selain itu, sebanyak 502 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Pastikan murid tetap belajar
Menurut Mendikdasmen, pihaknya harus memastikan anak-anak tetap dapat belajar dengan berbagai moda pembelajaran guna memastikan keamanan murid dan guru di tengah kondisi darurat.
Saat ini, Pemerintah Propinsi NTT telah menetapkan kebijakan pembelajaran dari rumah dan tempat pengungsian bagi sekitar 116.324 murid terdampak. Hal itu untuk menjaga keselamatan warga sekolah karena gempa susulan masih berlangsung dan sejumlah bangunan berpotensi roboh. Dari satuan pendidikan yang telah melaporkan kondisi pembelajaran, sebanyak 923 satuan pendidikan menerapkan belajar dari rumah, 171 melaksanakan pembelajaran daring, 35 sekolah menggunakan kelas darurat, dan 30 sekolah masih melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Untuk menjaga keberlanjutan pembelajaran, Kemendikdasmen telah menerbitkan Panduan Pembelajaran di Masa Darurat yang memberikan fleksibilitas dalam moda dan materi pembelajaran, dengan penekanan pada materi esensial, literasi-numerasi dasar, serta dukungan psikososial.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, dalam kunjungannya ke NTT pada 21 Agustus lalu mengatakan, Kemendikdasmen terus bergerak bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, meskipun dalam kondisi darurat.
“Kita ingin memastikan bahwa keterbatasan akibat bencana tidak menghentikan hak anak untuk belajar dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan,” ujar Atip Latipulhayat.
Tim Kemendikdasmen telah berada di Labuan Bajo sejak 16 Agustus dan bergerak ke sejumlah wilayah terdampak. Bantuan awal yang dibawa antara lain 4.500 bingkisan anak, paket sembako, 800 school kit, dan 400 family kit. Bantuan telah disalurkan ke sejumlah wilayah di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Tim Kemendikdasmen juga bergerak ke Ende, Nagekeo, dan Sikka.
Selain itu, untuk mendukung pemulihan kegiatan belajar, Kemendikdasmen secara bertahap menyiapkan ruang kelas darurat bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Sebanyak 100 tenda ruang kelas saat ini sedang didistribusikan dan diharapkan dapat mulai digunakan pada pekan berikutnya.
Kemendikdasmen juga akan menyiapkan tambahan penyaluran 5.000 school kit, 1.500 family kit, 6.238 mebelair, 3.956 papan tulis, dan 123.522 buku. Pendampingan kepada pemerintah daerah dalam menerapkan kebijakan pembelajaran masa darurat juga terus dilakukan hingga kebijakan tersebut berakhir pada 28 Agustus 2026.
Kemendikdasmen mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam mempercepat pemulihan layanan pendidikan. Dukungan diperlukan terutama untuk mempercepat pendistribusian bantuan serta pendampingan guru dan murid dalam melaksanakan pembelajaran darurat.
Pemulihan kondisi psikoogis
Selain infrastruktur, Atip juga menyebutkan bahwa salah satu fokus utama Kemendikdasmen adalah pemulihan kondisi psikologis murid dan guru.
“Dari kunjungan tadi saya melihat secara psikologis baik guru, murid khususnya, tampaknya mereka secara psikologis belum siap, tadi saya tanya satu per satu. Karena gempa masih terus berlangsung, jadi masih ada gempa-gempa susulan,” jelasnya.
Atip juga memberikan pesan penguatan kepada para guru dan orang tua siswa agar tetap tabah menghadapi musibah ini. Meskipun banyak yang secara fisik sehat, trauma psikologis masih membayangi, sehingga banyak warga yang memilih tetap berada di luar rumah meski bangunan mereka masih layak huni.
“Ya, tadi saya menyampaikan kepada para guru khususnya yang saya temui agar mereka tetap tabah menerima cobaan ini dan alhamdulillah para guru dalam keadaan sehat wal’afiat yang saya temui tadi. Meski secara psikologis mereka juga sangat terguncang meskipun ada beberapa guru yang rumahnya tidak terdampak cukup serius, tapi mereka tidak berani untuk berada di rumah. Nah, saya pesankan untuk menenangkan terlebih dahulu, begitu juga untuk para orang tua, dengan murid-murid yang saya temui tadi,” katanya.
Dukungan juga diberikan melalui pendampingan psikososial bagi murid dan guru bersama Himpunan Psikologi, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta mitra perguruan tinggi.
Dalam kesempatan itu, Atip, mewakili Kemendikdasmen, menyampaikan belasungkawa mendalam atas bencana yang telah menyebabkan 72 orang meninggal dunia, termasuk tiga murid dan satu guru. Gempa juga merusak puluhan ribu rumah dan menyebabkan lebih dari 80 ribu orang mengungsi, termasuk sekitar 38 ribu warga sekolah.
Demikian kami sampaikan informasi Sekolah Terdampak Gempa NTT Jadi Prioritas Revitalisasi Kemendikdasmen semoga bermanfaat.
![]()















