Banner Sidebar
Banner Sidebar

Transformasi AI Jadi Momentum Reformasi Perguruan Tinggi dan Pengembangan Talenta Muda

Bersama ini kami sampaikan informasi Tentang Transformasi AI Jadi Momentum Reformasi Perguruan Tinggi dan Pengembangan Talenta Muda Sebagai berikut:

Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi digital. Namun, tanpa pembangunan talenta dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang lebih strategis, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumsi teknologi, bukan pemain utama dalam ekosistem inovasi global.

Indonesia memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi digital. Namun, tanpa pengembangan talenta dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang strategis, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar teknologi, bukan pelaku utama dalam ekosistem inovasi global.

SEA General Manager Google Cloud Education, Adir Ginting, menilai dunia tengah mengalami pergeseran besar. Jika dahulu keberhasilan lebih banyak diukur dari kredensial akademik, kini karakter dan kemampuan berkolaborasi menjadi faktor yang semakin menentukan.

Menurutnya, budaya kerja di Google menempatkan karakter sebagai fondasi utama. Konsep googley mencerminkan sikap rendah hati serta kemauan untuk membantu orang lain berkembang dan meraih kesuksesan bersama.

“Pergeseran yang terjadi saat ini bukan hanya dari kredensial ke kompetensi, tetapi juga dari kredensial ke karakter,” ujarnya dalam The 4th Universitas Indonesia Employer Forum, pada Rabu (24/6/2026).

Adir menilai Indonesia patut bangga sebagai anggota G20 dengan potensi ekonomi digital yang besar. Namun, laju perkembangan teknologi global, khususnya AI, berlangsung sangat cepat dan didukung investasi raksasa dari perusahaan teknologi dunia.

Bahkan melampaui ukuran ekonomi sejumlah negara berkembang. Menurutnya, persaingan masa depan tidak lagi ditentukan oleh besarnya ekonomi suatu negara, melainkan oleh kemampuan membangun kapasitas teknologi dan kualitas sumber daya manusianya.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan menggunakan AI, tetapi bagaimana kita memanfaatkannya untuk menciptakan nilai tambah bagi bangsa,” katanya.

Adir menilai AI masih sering dipandang sebatas alat bantu untuk membuat konten atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal, teknologi ini telah digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kompleks, termasuk di bidang kesehatan dan sains.

Menurutnya, AI tidak boleh diperlakukan layaknya media sosial baru. Pengguna perlu memahami cara memanfaatkan teknologi tersebut untuk memecahkan masalah nyata. Karena itu, tantangan saat ini bukan hanya akses terhadap AI, tetapi juga pembangunan pengetahuan dan kedisiplinan dalam penggunaannya.

Baginya, perguruan tinggi termasuk UI, memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan solusi berbasis AI. Karena itu, dunia pendidikan tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan lama dalam menyiapkan lulusannya.

“Tidak mungkin kita menggunakan peta lama untuk menghadapi dunia yang sudah berubah,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Corporate Affairs Director PT Fast Retailing Indonesia (Uniqlo), Maria Irma Yunita Ardhiyanti, mengatakan kebutuhan dunia kerja saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada prestasi akademik, tetapi juga kemampuan dan karakter yang relevan dengan tuntutan industri global.

“Kredensial tetap penting, tetapi perusahaan kini mencari kualitas yang lebih luas daripada itu,” ujarnya.

Irma mengawali karier sebagai pengacara sebelum beralih ke berbagai posisi strategis di industri telekomunikasi dan kemudian bergabung dengan Uniqlo. Kini, sebagai Corporate Affairs Director, ia membawahi berbagai fungsi, mulai dari urusan hukum, hubungan pemerintah, keberlanjutan, hingga komunikasi korporasi.

Pengalaman tersebut membuat Irma meyakini bahwa kemampuan beradaptasi dan belajar lintas fungsi kian penting di dunia kerja modern. Menurutnya, Uniqlo mendorong setiap karyawan untuk berpikir dan bertindak layaknya pemimpin serta pemilik bisnis. Karena itu, perusahaan mencari talenta yang tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga proaktif mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi.

“Kami mencari orang yang bertanya, ‘Apa kontribusi yang bisa saya berikan?’ bukan orang yang mengatakan, ‘Itu bukan tugas saya’,” katanya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Irma menegaskan sumber daya manusia tetap menjadi faktor penentu keberhasilan perusahaan. Strategi bisnis penting untuk mendorong pertumbuhan, tetapi kualitas SDM menjadi fondasi keberlanjutan organisasi.

Karena itu, Uniqlo tidak hanya menilai kemampuan teknis dalam proses rekrutmen, tetapi juga karakter, pola pikir, dan potensi kontribusi kandidat bagi perusahaan.

“Pada akhirnya, yang kami cari adalah orang-orang yang mampu menciptakan nilai dan membawa organisasi berkembang bersama,” pungkasnya.

Demikian kami sampaikan informasi Transformasi AI Jadi Momentum Reformasi Perguruan Tinggi dan Pengembangan Talenta Muda semoga bermanfaat.

Loading