Bersama ini kami sampaikan informasi Tentang Sekolah Asrama Taruna Papua, Rumah Kedua yang Merajut Mimpi Generasi Muda Papua Sebagai berikut:
Langit cerah membentang di atas Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), Kabupaten Mimika, Papua Tengah, siang itu.
Suasana hening menyelimuti halaman dan lorong-lorong kelas yang berjejer. Namun, sesekali terdengar suara guru memandu pelajaran dari balik dinding kelas menandakan kegiatan belajar dan mengajar sedang berlangsung.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Kutilang SP4, Kelurahan Wonosari Jaya, Distrik Wania, dikelola oleh Yayasan Pendidikan Lokon atas dukungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakata Amungme dan Kamoro (YPMAK) dengan pembiayaan berasal dari dana kemitraan PT Freeport Indonesia.
Sejak beroperasi, SATP mengusung system pendidikan terpadu berbasis asrama untuk menjamin keberlanjutan pendidikan anak-anak asli Papua dari berbagai latar belakang.
SATP hanya tempat menimba ilmu melainkan rumah kedua bagi ribuan anak asli Papua untuk tumbuh, belajar hidup bersama, sekaligus merajut mimpi demi meraih masa depan yang cerah.
Jumlah peserta didik SATP jenjang sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP) saat ini kurang lebih 1.170 siswa dengan mayoritas berasal dari Suku Amungme dan Kamoro.
SATP memiliki tenaga guru sebanyak 83 orang, dan kurang lebih 90 tenaga pembinaan asrama yang memberikan pendampingan selama 24 jam. Selain itu, terdapat tenaga kependidikan, tim kesiswaan serta psikologi untuk mendukung kesehatan mental siswa selama proses adaptasi hidup di asrama.
SATP menerapkan metode pembelajaran yang kontekstual dan fun learning disertai pengembangan bakat akademik serta non-akademik.
Sekolah juga menyediakan fasilitas berupa pusat prestasi akademik, sains dan matematika, serta unit pelaksana teknis (UPT) seni dan budaya bagi siswa jenjang SMP.
“Pendekatan kami bukan hanya akademik, tetapi juga pembinaan karakter, disiplin, dan kemandirian anak-anak Papua,” kata Kepala SATP Mimika Sonianto Kuddi.
Prestasi akademik
Pendekatan pembelajaran yang diterapkan membuahkan hasil. Sejumlah siswa menorehkan prestasi baik di tingkat nasional hingga internasional.
Beberapa waktu lalu, siswa SMP mengikuti meraih prestasi pada Olimpiade Sains Nasional (ONS) tingkat provinsi, mengikuti ajang Asia International Mathematical Olympiad (AIMO), serta program BINA Talenta Indonesia di bidang sains, teknologi, dan coding.
Menurut Sonianto Kuddi, sekitar 90 persen lulusan SMP SATP telah melanjutkan pendidikan ke SMA mitra YPMAK di dalam maupun di luar Tanah Papua, seperti Jayapura, Yogyakarta, Semarang dan Makassar.
Bahkan, dua alumni tercatat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Kuala Lumpur dan Penang, Malaysia.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Proses adaptasi siswa baru jenjang SMP yang baru pertama kali tinggal jauh dari orang tua menjadi ujian tersendiri, terutama pada awal masuk atau usai libur panjang.
“Setelah libur, ada anak-anak yang enggan kembali sekolah dan minta pulang. Itu kami tangani bersama tim kesiswaan dan psikolog,” kata Sonianto.
Melalui pendekatan fun learning, pendampingan psikologis, serta peran aktif tim kesiswaan, kondisi tersebut berangsur membaik. Setelah dua pekan masa adaptasi, hanya satu siswa yang masih membutuhkan pendampingan lanjutan.
Untuk menjamin keamanan, SATP menerapkan sistem antar-jemput terpusat bekerja sama dengan YPMAK dan PT Freeport Indonesia, terutama bagi siswa dari wilayah pesisir dan pegunungan, termasuk saat liburan semester.
Sains berbasis edupreneur hidroponik
Selain fokus pada akademik dan karakter, SATP juga mengembangkan pembelajaran sains berbasis data yang terintegrasi dengan kewirausahaan (edupreneurship) melalui budidaya hidroponik.
Sonianto menjelaskan, program tersebut dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa sekaligus memperkenalkan proses ilmiah berbasis pengamatan dan pengolahan data.
Dalam praktiknya, siswa melakukan penelitian sederhana dengan mengamati pertumbuhan tanaman hidroponik, mulai dari pencatatan jumlah daun, tinggi tanaman, hingga waktu pertumbuhan.
Data tersebut kemudian diolah dalam bentuk tabel dan grafik untuk dianalisis serta dijadikan dasar pengambilan kesimpulan.
“Anak-anak belajar bahwa setiap informasi harus didasarkan pada data, sehingga mereka tidak mudah percaya tanpa bukti,” ujarnya.
Pembelajaran sains berbasis data itu dipadukan dengan program edupreneurship yang dikelola melalui UPT Edupreneur SATP. Melalui unit ini, siswa diperkenalkan pada kemampuan dasar kewirausahaan, seperti analisis modal, perhitungan waktu panen, potensi keuntungan, hingga risiko kerugian usaha.
UPT Edupreneur sudah berjalan dua tahun dan menghasilkan pendapatan sekitar Rp200 juta. Dana itu digunakan untuk mendukung pembiayaan lomba sains tingkat kabupaten serta keberangkatan siswa mengikuti kompetisi di Jakarta dan Yogyakarta.
Produk sayuran hidroponik yang dihasilkan berupa pakcoy dan selada. Hasil panen dipasarkan melalui kerja sama dengan kontraktor pemasok kebutuhan sayuran PT Freeport Indonesia, dengan rata-rata produksi sekitar 100 kilogram per panen dan harga jual sekitar Rp50.000 per kilogram.
Greenhouse hidroponik seluas sekitar 40,25 meter persegi itu dilengkapi 20 meja tanam, masing-masing dengan 100 lubang tanam. Pengelolaan dilakukan secara berkelanjutan dengan sistem tanam bergilir sehingga panen dapat dilakukan setiap dua minggu.
Projek P5 hingga usaha berkelanjutan
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP SATP Elpianus Paat, menjelaskan program hidroponik berawal dari kunjungan seorang ahli hidroponik PT Freeport Indonesia yang melihat aktivitas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SATP.
Diskusi berlanjut hingga mendatangkan tenaga ahli hidroponik, Okto Magai, yang membangun greenhouse beserta perlengkapannya dengan pendanaan pribadi. Okto juga melibatkan karyawannya untuk melatih siswa dan guru SATP.
Selain hidroponik, siswa juga melakukan penanaman di bedeng-bedeng pertanian di lingkungan sekolah sebagai bahan perbandingan metode tanam.
“Setelah satu hingga dua bulan pendampingan, siswa dilepas untuk mengelola sendiri. Namun kerja sama tetap berjalan, dan seluruh hasil panen dijual kembali ke mitra,” ujar Elpianus.
Mimpi yang tumbuh dari sekolah asrama
Bagi siswa seperti Ega Wevako, anak asal pesisir Jita dari suku Amungme dan Kamoro, SATP adalah tempat tumbuhnya mimpi. Ia mengaku jatuh cinta pada sekolah itu sejak pertama kali melihat lingkungan dan fasilitasnya.
“Saya lihat gedungnya bagus, halaman luas, fasilitas lengkap. Saya bilang ke orang tua mau sekolah di sini, dan orang tua mau,” tuturnya.
Ega yang kini duduk di bangku SMP kelas VII, aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk ONS hingga tingkat provinsi.
Melalui pendidikan asrama yang berpijak pada budaya dan konteks lokal Papua, SATP diharapkan terus melahirkan generasi muda Papua berprestasi, berkarakter, mandiri, berdaya saing, dan tetap melestarikan jati diri serta nilai-nilai kearifan lokal.
Demikian kami sampaikan informasi Sekolah Asrama Taruna Papua, Rumah Kedua yang Merajut Mimpi Generasi Muda Papua semoga bermanfaat.
Anda Ingin Melakukan Polling, Silahkan di PollingKita.com
