Banner Sidebar
Banner Sidebar

Siswa Boleh Pakai AI, Tapi Batasnya Sampai Mana

Penggunaan kecerdasan artifisial di sekolah menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Siswa perlu memahami bahwa AI merupakan alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir. (Foto: Ilustrasi)

Indonesia mendorong pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial di sekolah. Namun, semakin mudah AI digunakan siswa, semakin besar pula tantangan bagi guru dan orang tua untuk memastikan teknologi tidak menggantikan proses berpikir.

Jakarta, BeritaSekolah.com – Perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) di sekolah semakin menguat. Di saat Indonesia terus mendorong pembelajaran koding dan AI, New York City, Amerika Serikat, justru memberlakukan pembatasan penggunaan AI generatif bagi siswa sekolah dasar dan menengah pertama.

Baca Juga: PJJ Berakhir, Siswa Jakarta Kembali ke Sekolah Hari Ini: Ini yang Harus Diperhatikan

New York City menerapkan pembatasan penggunaan AI generatif bagi siswa hingga kelas 8. Kebijakan tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap ketergantungan siswa pada teknologi serta potensi berkurangnya kemampuan mereka dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengerjakan tugas secara mandiri.

Perbedaan pendekatan tersebut memunculkan pertanyaan bagi dunia pendidikan: seberapa jauh AI boleh digunakan siswa di sekolah?

Di Indonesia, arah kebijakannya berbeda. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari transformasi pendidikan.

Pembelajaran tersebut tidak semata-mata diarahkan agar siswa mampu menggunakan teknologi. Koding dan AI juga diharapkan membantu mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, analitis, kritis, kreatif, serta pemecahan masalah.

Namun, kemudahan teknologi juga menghadirkan persoalan baru. Dengan AI, siswa dapat memperoleh jawaban, membuat rangkuman, menyusun tulisan, hingga menghasilkan berbagai bentuk karya dalam waktu singkat.

Di satu sisi, kemampuan tersebut dapat membantu proses belajar. Siswa dapat menggunakan AI untuk mencari penjelasan tambahan, menemukan ide, atau memahami materi yang belum dikuasai.

Di sisi lain, penggunaan tanpa batas berpotensi menjadikan AI sebagai jalan pintas. Siswa bisa saja mengumpulkan tugas yang dibuat sepenuhnya oleh AI tanpa memahami materi maupun proses pengerjaannya.

Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Guru tidak hanya perlu memahami cara menggunakan AI, tetapi juga menentukan batas penggunaannya dalam proses pembelajaran dan penilaian.

Sekolah juga perlu memiliki aturan yang jelas. Siswa harus mengetahui kapan AI diperbolehkan, kapan penggunaannya harus dibatasi, serta bagaimana mencantumkan penggunaan AI dalam tugas atau karya yang mereka buat.

Orang tua pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Pengawasan penggunaan AI tidak cukup dilakukan di ruang kelas karena siswa juga dapat mengakses berbagai aplikasi AI dari rumah melalui telepon pintar maupun komputer.

Pada akhirnya, persoalan AI di sekolah bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh.

Yang lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut menjadi alat untuk membantu siswa belajar, bukan pengganti siswa untuk berpikir.

Sebab, ketika jawaban dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, tantangan pendidikan justru semakin besar: bagaimana memastikan siswa tetap mau bertanya, berpikir, mencoba, salah, memperbaiki, dan menemukan jawabannya sendiri. (ESH)

Loading