Bersama ini kami sampaikan informasi Tentang Tim Ekspedisi Patriot ITB Dorong Integrasi STEM dalam Kurikulum SMA/SMK di Manokwari Sebagai berikut:
Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Tim Ekspedisi Patriot–01 memperkuat perannya dalam pengembangan pendidikan sains dan teknologi di Papua Barat dengan menyelenggarakan Lokakarya Pengembangan Pendekatan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, pada 17 November 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program ITB dalam melakukan evaluasi, pendampingan, serta pemberdayaan kawasan transmigrasi melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan.
Lokakarya ini melibatkan perwakilan guru IPA dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dari lima sekolah, yakni SMAN 1 Masni, SMAN 1 Prafi, MAN Manokwari, SMKN 4 Prafi, dan SMKN 5 Manokwari. Kehadiran akademisi ITB sebagai narasumber memperkuat komitmen institusi dalam mendorong integrasi STEM pada kurikulum sekolah, sekaligus mengaitkannya dengan potensi lokal dan kebutuhan masyarakat desa.
Kontribusi Strategis ITB untuk Transformasi Pembelajaran di Papua Barat
Narasumber utama kegiatan ini adalah Dr. Muhammad Yudhistira Azis, M.Si, Dosen Kelompok Keahlian Kimia Analitik Prodi Kimia FMIPA ITB sekaligus Ketua Tim Ekspedisi Patriot–01. Dalam pemaparannya, Dr. Yudhistira menekankan bahwa STEM harus dipahami sebagai pendekatan lintas disiplin yang tidak hanya mengajarkan teori tetapi mendorong siswa mengidentifikasi masalah, menganalisis data, membuat prototipe, hingga menerapkan solusi secara berkelanjutan di masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa tantangan pendidikan di wilayah Prafi bersifat multidimensional. Salah satunya adalah adanya kesenjangan kurikulum antara tingkat SMA, baik Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, dengan kurikulum Perguruan Tinggi. Kesenjangan ini menyebabkan siswa kurang siap ketika melanjutkan pendidikan tinggi. Selain itu, minat siswa terhadap bidang sains dinilai masih rendah, padahal fondasi sains seperti matematika, fisika, dan kimia merupakan pintu masuk bagi lahirnya inovasi berbasis teknologi.
Menurut Dr. Yudhistira, potensi lokal kawasan transmigrasi Prafi yang didominasi sektor pertanian dan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar seharusnya dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran. Melalui STEM, sekolah dapat berperan aktif dalam membantu masyarakat desa, misalnya dengan melakukan identifikasi sederhana kualitas air, memanfaatkan teknologi informasi untuk pemasaran produk lokal, atau membuat produk berbasis sains seperti sabun, hand sanitizer, dan alat penyaring air.
“Pendekatan STEM memungkinkan sekolah untuk tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan solusi bagi permasalahan desa,” ungkapnya.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Penguatan Kapasitas Guru
Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Bidang SMA/SMK Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari, Recky Risamasu, yang menyampaikan dukungan penuh terhadap penguatan STEM di sekolah-sekolah. Ia menilai bahwa selama ini pembelajaran cenderung monoton dan belum mengarahkan siswa pada kemampuan analisis dan penerapan ilmu untuk menyelesaikan masalah. STEM dinilai dapat mengubah cara belajar tersebut menjadi lebih relevan dan kontekstual bagi kehidupan sehari-hari.
Dalam sesi diskusi, berbagai dinamika implementasi STEM di sekolah turut dibahas. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah guru berkompeten yang menjadi tantangan ketika STEM diintegrasikan sebagai muatan lokal atau bagian dari kegiatan ko-kurikuler. Para peserta juga mendalami bagaimana STEM dapat diterapkan dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) melalui pendekatan teoretis, analitis, dan berbasis keberlanjutan.
Rekomendasi Tindak Lanjut Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Konteks Lokal
Melalui proses diskusi dan analisis bersama, ITB bersama pemangku kepentingan pendidikan di Manokwari merumuskan rekomendasi strategis untuk penguatan STEM di Kawasan Transmigrasi Prafi.
Rekomendasi tersebut meliputi pengembangan capaian pembelajaran berbasis STEM yang mendorong siswa untuk menciptakan prototipe berbahan dasar komoditas lokal sehingga mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekonomi. Selain itu, integrasi STEM ke dalam kurikulum sekolah diusulkan dilakukan melalui muatan lokal, kegiatan ko-kurikuler, maupun asesmen IPA berbasis penelitian.
Penerapan STEM juga direkomendasikan untuk dimodifikasi dalam P5, dengan fokus pada penyelesaian masalah nyata, seperti pencemaran air, ketersediaan air bersih, atau optimalisasi pertanian. Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari menyatakan akan memasukkan pendekatan STEM sebagai program prioritas pendidikan SMA pada tahun 2026, sekaligus mendorong pendampingan berkelanjutan antara pemerintah daerah, ITB, dan akademisi lainnya.
ITB melalui Tim Ekspedisi Patriot–01 juga menegaskan perlunya pendampingan jangka panjang untuk memastikan program yang dirancang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan di sekolah dan masyarakat.
Konsisten Mendorong Pemajuan Pendidikan Sains di Wilayah 3T
Keikutsertaan ITB dalam program ini menegaskan komitmen kampus untuk mengambil peran aktif dalam pemerataan pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat di kawasan transmigrasi dan wilayah 3T. Kolaborasi antara dosen ITB, mahasiswa ITB, dan mahasiswa Universitas Cenderawasih dalam tim ekspedisi turut memperlihatkan upaya bersama dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk pembangunan daerah.
Dengan memusatkan pendekatan pada pemberdayaan generasi muda dan pemanfaatan potensi lokal, ITB berharap program penguatan STEM ini dapat menjadi fondasi bagi terciptanya lulusan SMA yang inovatif, kritis, serta mampu berkontribusi langsung dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat Papua Barat.
Demikian kami sampaikan informasi Tim Ekspedisi Patriot ITB Dorong Integrasi STEM dalam Kurikulum SMA/SMK di Manokwari semoga bermanfaat.
Anda Ingin Melakukan Polling, Silahkan di PollingKita.com
