Bersama ini kami sampaikan informasi Tentang Sekolah Didorong Bangun Ketangguhan Siswa di Tengah Dunia yang Berubah Cepat Sebagai berikut:
Dunia makin cepat berubah, diikuti dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta tingginya arus informasi, maka sekolah didorong fokus bangun ketangguhan siswa.
Dalam konteks ini peran sekolah dewasa ini ikut berubah. Pendidikan tidak lagi tentang pencapaian nilai akademik, tetapi perlu menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar menghadapi tantangan, mengelola emosi, dan beradaptasi dengan perubahan.
Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander dalam keterangannya, Kamis, menilai perlu adanya penyesuaian cara pandang dalam melihat tujuan pendidikan. Jika selama ini tolok ukur kesuksesan siswa ditentukan oleh nilai, kini standar tersebut tidak lagi relevan.
“Anak dianggap sukses di sekolah bukan sekadar saat dia meraih nilai A, tetapi ketika mereka akhirnya mampu menghadapi situasi sulit, beradaptasi dengan perubahan, mengelola emosi, serta memandang tantangan sebagai bagian dari proses belajar dan bertumbuh,” ujar Ezra.
Ia menjelaskan bahwa ketangguhan (resilience) dan fleksibilitas (adaptability) perlu dibangun melalui pengalaman belajar yang nyata, baik di sekolah maupun di rumah.
“Anak perlu dibiasakan untuk mencoba, menghadapi kegagalan, lalu merefleksikannya sebagai momen evaluasi dan perbaikan sehingga kepercayaan diri dan daya tahan mental terbentuk,” ucapnya.
Pendekatan ini, lanjut Ezra, sejalan dengan berbagai kajian global. Laporan World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa kemampuan seperti pemecahan masalah, pengelolaan diri, dan adaptabilitas menjadi keterampilan utama yang dibutuhkan di dunia kerja masa depan, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan AI.
“Nah, untuk membangun ketangguhan itu tidak bisa terlepas dari kesejahteraan emosional (wellbeing) siswa,” katanya.
Ezra menyoroti tekanan digital yang semakin dirasakan generasi muda, mulai dari paparan layar yang berlebihan hingga distraksi media sosial yang memengaruhi fokus, relasi sosial, dan kesehatan mental.
Untuk merespons hal tersebut, NJIS menerapkan lingkungan belajar bebas ponsel. Kebijakan ini bertujuan memberi ruang bagi siswa untuk berinteraksi secara langsung, bekerja sama, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik di lingkungan sekolah.
“Kami ingin siswa belajar mengelola teknologi secara sadar, agar kehidupan digital tidak mengambil alih ruang belajar dan relasi mereka,” ungkap Ezra.
Relasi yang sehat antara guru dan siswa juga menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif. Melalui pembelajaran sosial-emosional (Social Emotional Learning) atau SEL yang diwujudkan dalam keseharian, siswa didorong untuk mengenali emosi, membangun empati, dan merasa dihargai sebagai individu.
Selain aspek emosional, keberagaman juga memainkan peran penting dalam membentuk ketangguhan siswa. Dalam lingkungan sekolah yang multikultural, interaksi lintas budaya membantu siswa memperluas perspektif, memahami perbedaan, dan terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Pengalaman berinteraksi dengan latar belakang yang beragam secara alami menumbuhkan empati dan kemampuan berpikir terbuka. Ini menjadi bekal penting bagi siswa untuk hidup dan bekerja di dunia yang semakin terhubung,” kata Ezra.
Di tengah dunia yang terus berubah, Ezra menegaskan bahwa pendidikan perlu kembali pada esensi utamanya, yaitu membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, berempati, dan siap menghadapi kompleksitas kehidupan.
Demikian kami sampaikan informasi Sekolah Didorong Bangun Ketangguhan Siswa di Tengah Dunia yang Berubah Cepat semoga bermanfaat.
Anda Ingin Melakukan Polling, Silahkan di PollingKita.com
