counter statistics
Selasa, 03 November 2026
Breaking News
Berita Umum

Transformasi Pendidikan Kemendikdasmen, 55 Ribu Sekolah Diperbaiki

Administrator | | 5 mnt baca
Transformasi Pendidikan Kemendikdasmen, 55 Ribu Sekolah Diperbaiki
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

Jakarta, BeritaSekolah.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pemerataan akses pendidikan berkualitas melalui berbagai program strategis. Langkah tersebut mencakup perbaikan infrastruktur sekolah, pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, hingga penguatan sistem pembelajaran yang lebih inklusif.

Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pemerintah menempatkan peningkatan kualitas pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Kebijakan ini bertujuan memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta murid berkebutuhan khusus.

Revitalisasi Lebih dari 55 Ribu Sekolah Jadi Prioritas Pemerintah

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap kondisi sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia.

Pemerintah berkomitmen memastikan kegiatan belajar mengajar berlangsung di lingkungan yang aman, nyaman, dan memenuhi standar kelayakan.

Arahan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Asta Cita keempat yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia unggul serta penguatan nilai Pancasila, kebudayaan, dan bahasa.

Dalam wawancara program One on One tvOne pada Jumat (30/10/2026), Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa Presiden secara konsisten menekankan pentingnya pembenahan sekolah yang mengalami kerusakan.

Hingga dua tahun pertama pemerintahan, Kemendikdasmen telah melaksanakan revitalisasi terhadap lebih dari 55.000 satuan pendidikan.

Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah hingga mendekati 80.000 sekolah pada akhir 2026.

Pelaksanaan revitalisasi difokuskan pada sekolah dengan tingkat kerusakan berat, satuan pendidikan di daerah 3T, serta fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana alam.

Khusus untuk wilayah Sumatra yang terdampak bencana, pemerintah melaporkan bahwa sekitar 98 persen sekolah terdampak telah dibangun kembali.

Seluruh sekolah tersebut juga telah kembali menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, meskipun sebagian masih menggunakan sistem pergantian jadwal belajar.

Digitalisasi Pendidikan, Pemerintah Targetkan Lebih dari Satu Juta Perangkat

Selain memperbaiki kondisi bangunan sekolah, Kemendikdasmen mempercepat transformasi pembelajaran melalui penggunaan teknologi digital.

Salah satu langkah yang dijalankan adalah distribusi papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP) ke berbagai satuan pendidikan.

Sepanjang 2025, pemerintah telah menyalurkan lebih dari 288.865 perangkat IFP ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Pada 2026, pemerintah menargetkan penambahan lebih dari 700.000 perangkat sehingga jumlah keseluruhan distribusi dalam dua tahun diharapkan melampaui satu juta unit.

Menurut Abdul Mu'ti, digitalisasi pendidikan tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat elektronik, tetapi juga harus didukung kesiapan tenaga pendidik dan infrastruktur.

Program tersebut mencakup penyediaan papan interaktif, laptop, pelatihan guru, serta fasilitas pendukung berupa listrik, internet, dan bahan pembelajaran digital.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran sekaligus membantu mengurangi kesenjangan akses pendidikan antardaerah.

Teknologi Digital Bantu Pembelajaran Murid Berkebutuhan Khusus

Pemanfaatan teknologi pendidikan juga memberikan manfaat bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa sejumlah sekolah telah menggunakan fitur audio pada perangkat IFP untuk mendukung kegiatan belajar murid tunanetra.

Sementara itu, guru di salah satu sekolah luar biasa di Kudus telah memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam pengembangan materi pembelajaran bagi murid tunarungu.

Perangkat digital tersebut juga dapat digunakan sebagai laboratorium virtual yang memungkinkan siswa mempelajari berbagai konsep sains melalui simulasi interaktif.

Untuk sekolah yang belum memperoleh pasokan listrik memadai, Kemendikdasmen menjalin kerja sama dengan PLN dan menyiapkan penggunaan panel surya sebagai alternatif sumber energi.

Selain itu, perangkat IFP dilengkapi kemampuan menyimpan materi pembelajaran sehingga tetap dapat digunakan tanpa koneksi internet secara terus-menerus.

Langkah ini diharapkan membantu sekolah di wilayah terpencil mendapatkan manfaat teknologi pendidikan meskipun menghadapi keterbatasan infrastruktur.

Pemerintah Tingkatkan Kualifikasi dan Kesejahteraan Guru

Transformasi pendidikan juga dilakukan melalui peningkatan kualitas tenaga pendidik.

Kemendikdasmen menerapkan pendekatan 3K yang mencakup kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru.

Dalam aspek kualifikasi, pemerintah memberikan kesempatan kepada lebih dari 200.000 guru yang belum memiliki pendidikan Diploma IV (D4) atau Sarjana (S1) untuk melanjutkan studi.

Program tersebut dilaksanakan melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dengan dukungan beasiswa sebesar Rp3 juta per semester untuk setiap guru.

Sementara itu, penguatan kompetensi dilakukan melalui berbagai pelatihan yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pendidikan.

Materi pelatihan meliputi pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, bahasa Inggris, koding, kecerdasan artifisial, serta pendekatan STEM yang mencakup sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.

Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik melalui peningkatan tunjangan dan insentif.

Tunjangan sertifikasi bagi guru non-Aparatur Sipil Negara (non-ASN) mengalami kenaikan dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta setiap bulan.

Adapun insentif untuk guru yang belum memiliki sertifikasi meningkat dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat motivasi guru sekaligus mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

Pendampingan Murid dan Evaluasi Akademik Diperkuat

Kemendikdasmen juga menaruh perhatian terhadap kebutuhan belajar dan perkembangan psikologis peserta didik.

Melalui penguatan peran guru wali, pemerintah mendorong sekolah memberikan pendampingan yang lebih menyeluruh kepada murid.

Pendampingan tidak hanya berhubungan dengan prestasi akademik, tetapi juga mencakup kesulitan belajar, kondisi psikologis, serta persoalan keluarga yang berpotensi memengaruhi proses pendidikan.

Di samping itu, pemerintah mengembangkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai instrumen evaluasi untuk memberikan gambaran capaian pembelajaran secara lebih terstandar.

Hasil evaluasi tersebut diharapkan dapat membantu guru, orang tua, dan peserta didik memahami kemampuan akademik sekaligus mengidentifikasi bidang yang masih memerlukan peningkatan.

Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah maupun wilayah di Indonesia.

Kemendikdasmen Perluas Kerja Sama untuk Pendidikan Berkualitas

Ke depan, Kemendikdasmen berencana mempercepat penyelesaian revitalisasi sekolah dan memperluas penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar.

Peningkatan kemampuan guru juga akan terus dilaksanakan melalui pelatihan dan kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan.

Sejumlah mitra yang disebutkan dalam penguatan kapasitas pendidikan antara lain program INOVASI Australia dan McGill University di Kanada.

Pemerintah menekankan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat.

Semangat partisipasi semesta menjadi landasan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih merata, inklusif, dan berkelanjutan.

Abdul Mu'ti turut mengingatkan pentingnya membangun budaya belajar sepanjang hayat, baik bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.

Melalui revitalisasi puluhan ribu sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kesejahteraan guru, pemerintah berharap kualitas pendidikan Indonesia semakin meningkat serta mampu menghasilkan generasi yang kompeten dan siap menghadapi tantangan masa depan.(*)

Komentar (0)