Gunung Marapi Tetap Level II Waspada, Ini Potensi Bahayanya
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
SUMATERA BARAT, BeritaSekolah.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan status Gunung Marapi di Sumatera Barat masih berada pada Level II atau Waspada. Penetapan tersebut didasarkan pada hasil analisis aktivitas vulkanik selama periode pengamatan 16–31 Oktober 2026.
Keputusan mempertahankan tingkat kewaspadaan itu tertuang dalam surat evaluasi bernomor 1853.Lap/GL.03/BGL/2026 yang diterbitkan pada 5 November 2026.
Dokumen tersebut disampaikan kepada sejumlah pejabat terkait, termasuk Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gubernur Sumatera Barat, Wali Kota Bukittinggi, Wali Kota Padang Panjang, Bupati Tanah Datar, serta Bupati Agam.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Marapi hingga akhir Oktober 2026 masih tergolong tinggi. Pergerakan fluida maupun magma dari bagian dalam gunung diperkirakan masih berlangsung sehingga kemungkinan terjadinya erupsi belum dapat dikesampingkan.
Meski demikian, hasil pemantauan belum menunjukkan adanya peningkatan suplai magma secara signifikan yang mengarah pada potensi letusan lebih besar.
Aktivitas Kawah Gunung Marapi Masih Terpantau
Berdasarkan pengamatan visual selama dua pekan terakhir Oktober 2026, kondisi puncak Gunung Marapi terkadang terlihat jelas, tetapi pada waktu tertentu tertutup kabut.
Asap yang keluar dari kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Ketinggian asap berkisar antara 50 sampai 300 meter dari puncak gunung.
Kondisi cuaca di kawasan tersebut juga berubah-ubah, mulai dari cerah hingga turun hujan. Suhu udara tercatat berada pada kisaran 16–25 derajat Celsius, sementara angin bertiup lemah dengan arah yang bervariasi.
Petugas pengamatan turut mendeteksi kejadian gempa letusan. Namun, tinggi kolom letusan maupun warna abu tidak dapat dipastikan secara visual karena kawasan puncak sering tertutup kabut.
Ketika kondisi cuaca memungkinkan pengamatan, asap kawah masih terlihat mencapai ketinggian sekitar 300 meter. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa pelepasan gas dari sistem vulkanik dangkal masih berlangsung.
Puluhan Gempa Vulkanik Terekam Selama Pengamatan
Pemantauan menggunakan instrumen kegempaan memperlihatkan bahwa aktivitas Gunung Marapi masih cukup dinamis.
Sepanjang periode 16–31 Oktober 2026, Badan Geologi mencatat tiga kali gempa letusan, 35 kali gempa hembusan, serta 20 kali tremor harmonik.
Selain itu, instrumen juga merekam satu gempa frekuensi rendah, 19 gempa vulkanik dangkal, dan 34 gempa vulkanik dalam.
Aktivitas kegempaan lainnya meliputi 21 gempa tektonik lokal, 43 gempa tektonik jauh, serta dua kejadian tremor menerus dengan amplitudo dominan sebesar 0,5 milimeter.
Walaupun jumlah gempa menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, hasil analisis energi seismik belum memperlihatkan peningkatan yang signifikan secara terus-menerus.
Pengukuran Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan nilai yang bergerak naik turun di sekitar kondisi dasar atau baseline.
Sementara itu, data deformasi dari alat tiltmeter memperlihatkan kecenderungan deflasi atau penurunan, bukan penggembungan tubuh gunung.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar penilaian bahwa belum ditemukan petunjuk kuat mengenai masuknya magma baru dalam jumlah besar ke sistem Gunung Marapi.
Belum Ada Indikasi Kuat Menuju Erupsi Lebih Besar
Badan Geologi juga melakukan analisis terhadap perubahan kecepatan relatif gelombang seismik atau dv/v.
Hasil pengamatan menunjukkan nilai dv/v mengalami fluktuasi dan masih berada pada angka negatif. Keadaan ini menggambarkan bahwa kondisi material penyusun tubuh gunung belum sepenuhnya stabil dan masih sensitif terhadap perubahan tekanan.
Namun, tidak ditemukan penurunan nilai dv/v secara signifikan ataupun gangguan koherensi yang menunjukkan peningkatan tekanan baru di bagian dangkal gunung.
Berdasarkan keseluruhan data, Badan Geologi menilai sistem saluran magma dangkal Gunung Marapi masih aktif, tetapi belum memperlihatkan tanda kuat terjadinya peningkatan pasokan atau tekanan magma dari kedalaman.
Dengan demikian, potensi aktivitas vulkanik masih perlu diwaspadai meskipun belum terdapat kecenderungan yang jelas menuju erupsi dengan skala lebih besar.
Radius Tiga Kilometer dari Kawah Verbeek Masih Berbahaya
Meski status Gunung Marapi tetap berada pada Level II Waspada, masyarakat diminta tidak mengabaikan ancaman yang dapat muncul sewaktu-waktu.
Badan Geologi memperkirakan potensi bahaya utama masih berupa lontaran material pijar dan abu vulkanik di sekitar pusat aktivitas, terutama dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek.
Apabila terjadi erupsi, material abu berpotensi menyebar mengikuti arah serta kecepatan angin. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas udara, mengganggu kesehatan pernapasan, hingga berdampak pada aktivitas penerbangan.
Ancaman lainnya adalah kemungkinan terjadinya lahar atau banjir lahar ketika material hasil erupsi dan endapan vulkanik bercampur dengan air hujan.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi lembah, bantaran sungai, serta aliran sungai yang memiliki hulu di kawasan puncak Gunung Marapi.
Selain ancaman material vulkanik, kawasan kawah dan puncak juga berpotensi mengandung gas berbahaya, seperti karbon dioksida (CO₂), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO₂), serta hidrogen sulfida (H₂S).
Masyarakat dan Pendaki Diminta Mematuhi Rekomendasi
Sebagai langkah pencegahan, Badan Geologi mengingatkan masyarakat, pendaki, wisatawan, maupun pengunjung agar tidak memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek.
Larangan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko terkena lontaran material vulkanik apabila aktivitas erupsi kembali terjadi.
Warga yang tinggal di sekitar jalur sungai berhulu dari Gunung Marapi juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar, khususnya ketika intensitas hujan meningkat.
Apabila terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang menutupi hidung dan mulut untuk mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Badan Geologi turut mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya dan menghindari penyebaran berita bohong mengenai aktivitas Gunung Marapi.
Informasi resmi serta arahan keselamatan diharapkan tetap menjadi pedoman utama masyarakat dalam menghadapi perkembangan aktivitas gunung tersebut.
Pemantauan Gunung Marapi Akan Terus Dilakukan
Pemerintah daerah di Bukittinggi, Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Agam diminta mempertahankan koordinasi dengan Badan Geologi untuk memastikan informasi perkembangan aktivitas vulkanik dapat diterima secara cepat dan akurat.
Koordinasi dapat dilakukan melalui Badan Geologi di Bandung maupun Pos Pengamatan Gunung Marapi yang beralamat di Jalan Prof. Hazairin Nomor 168, Bukittinggi.
Badan Geologi menegaskan bahwa evaluasi tingkat aktivitas Gunung Marapi akan terus dilakukan secara berkala. Penilaian juga dapat diperbarui sewaktu-waktu apabila instrumen pemantauan menunjukkan perubahan aktivitas yang signifikan.
Hingga diterbitkannya laporan evaluasi terbaru, status Gunung Marapi tetap berada pada Level II atau Waspada, dengan rekomendasi pembatasan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek serta peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman erupsi, hujan abu, dan banjir lahar. (*)