Cegah Bullying di Sekolah Surabaya, 4.139 Guru Dilibatkan
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
SURABAYA, BeritaSekolah.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus meningkatkan langkah pencegahan bullying atau perundungan di lingkungan pendidikan. Melalui Dinas Pendidikan (Dispendik), pemerintah daerah mengajak sekolah dan orang tua memperkuat kerja sama dalam mengawasi perkembangan perilaku anak sejak jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Dispendik Surabaya mengoptimalkan keterlibatan 3.856 guru kelas dan 283 guru Bimbingan Konseling (BK). Sebanyak 4.139 tenaga pendidik tersebut memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa sekaligus memberikan pendampingan sejak dini.
Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Febrina Kusumawati, menjelaskan bahwa pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi pendidikan karakter. Sekolah juga perlu menciptakan kebiasaan positif yang diterapkan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari.
Pendidikan Karakter Jadi Kunci Pencegahan Bullying
Menurut Febrina, salah satu strategi yang dijalankan Pemkot Surabaya adalah memperkuat pendidikan karakter melalui program Sekolahe Arek Suroboyo.
Program tersebut diarahkan untuk membentuk peserta didik yang mampu menghargai perbedaan, mengendalikan emosi, serta menyelesaikan perselisihan tanpa menggunakan kekerasan.
Pembentukan karakter sejak usia sekolah dinilai penting agar anak memahami cara berinteraksi dengan teman sebaya secara sehat dan saling menghormati.
Dalam keterangannya pada Senin (2/11/2026), Febrina menegaskan bahwa nilai-nilai positif harus diterapkan melalui pembiasaan, bukan sekadar dipahami sebagai teori.
Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan semakin menyadari bahwa setiap individu memiliki hak untuk memperoleh perlakuan yang baik dan dihargai dalam lingkungan sosialnya.
Dispendik Surabaya Dorong Komunikasi Aktif Guru dan Orang Tua
Selain memperkuat pendidikan karakter, Dispendik Surabaya memberikan perhatian khusus terhadap hubungan komunikasi antara sekolah dan keluarga.
Febrina mengingatkan bahwa pengawasan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama. Guru memiliki kesempatan mengamati perilaku siswa selama mengikuti kegiatan belajar, sementara orang tua dapat mengenali perubahan sikap anak ketika berada di rumah.
Oleh sebab itu, komunikasi antara kedua pihak perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya berlangsung ketika sekolah membagikan hasil evaluasi belajar atau rapor.
Apabila ditemukan perubahan perilaku yang tidak biasa, guru kelas maupun guru BK diharapkan segera menghubungi orang tua untuk membahas kondisi siswa.
Koordinasi tersebut dapat dilakukan melalui percakapan telepon, pesan singkat, ataupun pertemuan langsung sesuai kebutuhan.
Melalui komunikasi yang terbuka, sekolah dan keluarga diharapkan mampu mengetahui persoalan yang sedang dihadapi anak serta menentukan bentuk pendampingan yang sesuai sebelum masalah menjadi semakin serius.
Ribuan Guru Dilibatkan dalam Pengawasan Perilaku Siswa
Keterlibatan 3.856 guru kelas bersama 283 guru BK menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat sistem pendampingan peserta didik di Surabaya.
Guru kelas berperan mengamati kebiasaan, interaksi sosial, dan perubahan perilaku siswa dalam kegiatan sehari-hari. Sementara itu, guru BK dapat membantu memberikan pendampingan ketika peserta didik menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Informasi yang diperoleh dari lingkungan sekolah kemudian dapat dikomunikasikan dengan orang tua untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi anak.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pencegahan bullying di sekolah Surabaya, sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Siswa Sekolah Dasar Membutuhkan Pendampingan Lebih Intensif
Febrina juga menyoroti pentingnya pendampingan terhadap anak-anak yang masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah dasar.
Pada tahap tersebut, peserta didik sedang mengalami perkembangan kemampuan sosial dan emosional. Mereka mulai mengenal berbagai karakter teman, memahami aturan dalam pergaulan, serta belajar menghadapi perbedaan pendapat.
Kondisi ini membuat peran guru dan keluarga menjadi sangat penting dalam memberikan arahan mengenai batasan perilaku yang dapat diterima.
Anak-anak perlu dibimbing agar mampu membangun hubungan pertemanan yang sehat, menghormati orang lain, dan mengatasi konflik tanpa melakukan tindakan yang merugikan teman sebaya.
Menurut Febrina, tingginya rasa ingin tahu pada usia sekolah dasar harus diimbangi dengan pendampingan yang konsisten.
Dengan adanya contoh perilaku positif dari lingkungan rumah maupun sekolah, anak diharapkan dapat mengembangkan sikap empati dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Pemkot Surabaya Perkuat Sinergi Sekolah dan Keluarga
Upaya pencegahan perundungan yang dilakukan Pemkot Surabaya menempatkan kerja sama antara guru dan orang tua sebagai bagian penting dalam perlindungan peserta didik.
Pendidikan karakter melalui Sekolahe Arek Suroboyo, pengawasan oleh ribuan tenaga pendidik, serta komunikasi rutin dengan wali murid diharapkan dapat membantu mengenali potensi persoalan sejak awal.(*)
Melalui langkah tersebut, Dispendik Surabaya berupaya membangun lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan karakter, kemampuan sosial, dan kesejahteraan emosional anak.
Sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi fondasi penting agar siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dalam suasana yang aman, saling menghargai, dan terbebas dari tindakan perundungan.