counter statistics
Selasa, 03 November 2026
Breaking News
Berita Umum

248 Siswa di Batu Bara Sulap Sampah Jadi Bantuan Anak Yatim

Administrator | | 3 mnt baca
248 Siswa di Batu Bara Sulap Sampah Jadi Bantuan Anak Yatim
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

BATU BARA, BeritaSekolah.com – Kepedulian terhadap lingkungan sekaligus semangat berbagi ditunjukkan ratusan siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al Mukhlisin di Desa Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Melalui program bertajuk "Sedekah Sampah Bantu Anak Yatim Sekolah", sampah anorganik yang dikumpulkan para siswa dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan anak yatim.

Kegiatan sosial tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Bank Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, dengan MIS Al Mukhlisin.

Program ini mengajak siswa untuk mengumpulkan berbagai jenis sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Hasil penjualannya kemudian digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah bagi anak yatim, seperti tas, sepatu, dan seragam.

Sebanyak 248 Siswa Terlibat dalam Gerakan Sedekah Sampah

Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat Inalum, Ali Hasian, menjelaskan bahwa program tersebut melibatkan 248 siswa dari total 406 peserta didik MIS Al Mukhlisin.

Para siswa yang berpartisipasi berasal dari sembilan kelas, mulai dari tingkat kelas 3 hingga kelas 6.

Dalam pelaksanaannya, siswa mengumpulkan sampah anorganik berupa botol plastik, kaleng, serta kardus bekas. Setiap kelas telah menyediakan tempat khusus untuk menampung sampah yang berhasil dikumpulkan.

Selanjutnya, petugas Bank Sampah Berseri melakukan penimbangan secara rutin setiap Rabu dan Sabtu. Sampah yang terkumpul kemudian dijual melalui sistem bank sampah.

Program tersebut menargetkan pengumpulan sampah anorganik sebanyak 35 kilogram setiap bulan.

Inalum Apresiasi Program Lingkungan yang Berdampak Sosial

Ali Hasian menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Bank Sampah Berseri yang mampu menggabungkan kegiatan pelestarian lingkungan dengan bantuan sosial di bidang pendidikan.

Menurutnya, kegiatan sederhana seperti mengumpulkan dan memilah sampah dapat memberikan manfaat lebih luas apabila dikelola secara berkelanjutan.

Selain mengurangi sampah yang berpotensi mencemari lingkungan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk memahami pentingnya kepedulian terhadap sesama.

Ali berharap gerakan sedekah sampah dapat terus berkembang dan mendorong masyarakat untuk membiasakan diri memilah sampah dari sumbernya.

Ajarkan Anak Berbagi Tanpa Harus Menggunakan Uang

Pembina Bank Sampah Berseri, Dedi Syahputra, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menanamkan dua nilai penting kepada anak-anak, yakni tanggung jawab terhadap lingkungan dan kepedulian sosial.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diajarkan bahwa membantu orang lain tidak selalu harus dilakukan dengan memberikan uang.

Barang bekas yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan memberikan manfaat nyata bagi orang lain.

Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar menjaga kebersihan lingkungan sekolah, tetapi juga memahami bahwa tindakan kecil dapat membantu teman-teman mereka yang membutuhkan.

Hasil Penjualan Sampah Digunakan untuk Perlengkapan Sekolah

Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menyambut baik pelaksanaan program sedekah sampah tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang mengajarkan siswa mengenai kebersamaan, tanggung jawab, dan rasa empati.

Dana yang diperoleh dari hasil penjualan sampah akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak yatim, terutama pembelian perlengkapan sekolah.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan anak-anak penerima manfaat sekaligus memberikan semangat bagi mereka untuk terus belajar.

Kolaborasi Bank Sampah Berseri, Inalum, dan MIS Al Mukhlisin ini menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat menghasilkan manfaat lingkungan sekaligus mendukung pendidikan.

Melalui keterlibatan siswa sejak usia dini, kebiasaan memilah sampah dan membantu sesama diharapkan dapat terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Komentar (0)